Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Ushul Fiqih

Apakah Istilah “Sunnah” Berbeda dengan Istilah “Mustahab” Menurut Syafi’iyyah?

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Pengambilan kesimpulan akhir atas bahasan ini, bukan perkara mudah sebenarnya, karena perlu penelitian ke kitab-kitab fuqaha Syafi’iyyah, dari kalangan mutaqaddimin dan mutaakhkhirin yang mu’tabar. Dan status ringkas ini, tentu tidak dihasilkan dari penelitian seserius itu.

Hanya saja, perlu dijelaskan, secara umum, ada dua pendapat ulama tentang hal ini. Pendapat pertama, menyatakan bahwa istilah “mandub”, “mustahab”, “tathawwu'”, “sunnah”, “ihsan”, dan “muraghghab fih”, merupakan sinonim. Makna semuanya sama, yaitu sesuatu yang dituntut untuk dilakukan, namun bukan dengan tuntutan tegas, sehingga jika ia ditinggalkan tak berdosa.

Pendapat kedua, istilah-istilah tersebut berbeda-beda maknanya. Dan yang mengikuti pendapat kedua ini pun, nanti dalam perinciannya terbagi menjadi berbagai pendapat lagi dalam mendefinisikan masing-masing istilah. Pendapat kedua ini, dipilih oleh sebagian ulama Hanafiyyah, sebagian Malikiyyah, sebagian Syafi’iyyah, dan sebagian Hanabilah.

Kesimpulan pembagian di atas, bisa dibaca pada kitab “Al-Muhadzdzab Fi ‘Ilm Ushul Al-Fiqh Al-Muqaran”, karya Syaikh ‘Abdul Karim bin ‘Ali bin Muhammad An-Namlah.

Jadi, menurut penelitian penulis kitab tersebut, di kalangan Syafi’iyyah sendiri berbeda memahami, apakah istilah “sunnah” dan istilah “mustahab” itu berbeda.

Dan kenyataan ini, diperkuat lagi oleh pernyataan Al-Khathib Asy-Syirbini dalam Mughni Al-Muhtaj, bahwa istilah “nafilah”, “sunnah”, “mandub”, “mustahab”, “muraghghab fih”, dan “hasan” bermakna sama menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab. Adapun sebagian ulama Syafi’iyyah, seperti Al-Qadhi Husain dan lainnya, menyatakan perkara selain fardhu terbagi menjadi tiga, yaitu (1) tathawwu’, yang maknanya perkara yang tidak memiliki dalil naqli secara khusus, (2) sunnah, yaitu perkara yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan (3) mustahab, yaitu perkara yang hanya dilakukan Rasul sekali-sekali, atau yang beliau perintahkan namun tidak beliau lakukan.

Jadi, jika ada sebagian pengajar fiqih Syafi’i yang menegaskan perbedaan istilah “sunnah” dan “mustahab” bahwa “sunnah” itu perkara yang memiliki dalil dari nash secara khusus, sedangkan istilah “mustahab” lebih umum dan mencakup juga perkara yang tidak memiliki nash secara khusus namun ia dianggap baik dan disukai (menurut pandangan fuqaha), kita harus membawanya pada ranah perbedaan penggunaan istilah tersebut. Bukan menganggapnya sebagai kemutlakan.

Ketika dikatakan bahwa contoh “mustahab” dan bukan “sunnah” adalah pelafazhan niat dengan lisan, maka ini kembali lagi masuk pada ranah ikhtilaf penggunaan istilah di atas. Al-Bajuri dalam Hasyiyah atas Fathul Qarib menggunakan istilah “yusannu” (disunnahkan) saat menyebut pelafazhan niat dengan lisan, bukan dengan ungkapan “yustahabbu” (disukai).

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén