Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Tafsir Al-Qur'an

Bolehkah Membiarkan Kemungkaran di Tengah Masyarakat?

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Dan peliharalah diri kalian dari ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal [8]: 25)

Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang ‘fitnah’, yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak. Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.

Imam At-Thabari dalam Tafsirnya, menyampaikan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang ayat ini. Ibnu ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”

Dalam Tafsir Imam Al-Baghawi, ada tambahan redaksi terhadap pernyataan Ibnu ‘Abbas ini, yaitu: “yang akan menimpa orang yang berlaku zalim dan yang tidak.”

Sebagian mufassir dari kalangan tabi’in mengkhususkan ayat ini hanya untuk sebagian kalangan shahabat saja, seperti yang dinyatakan oleh As-Suddi dan Al-Hasan. As-Suddi berkata bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang terlibat dalam Perang Jamal. Sedangkan Al-Hasan lebih jelas lagi menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan ‘Ali, ‘Utsman, Thalhah dan Zubair rahmatullahi ‘alaihim (Lihat Tafsir Ath-Thabari). Dalam salah satu riwayat, Ibnu ‘Abbas juga menyatakan bahwa ayat ini turun tentang para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Namun, Mujahid menyatakan bahwa ayat ini juga berlaku untuk yang lain. Demikian juga menurut Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan lainnya. Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada salah seorang pun dari kalian kecuali ia terkena ‘fitnah’. Allah ta’ala berfirman: innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah (sesungguhnya harta dan anak-anak kalian merupakan ‘fitnah’) (At-Taghabun [64]: 15), maka berlindunglah kepada Allah dari ‘fitnah’-‘fitnah’ yang menyesatkan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Oleh karena itu, Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat ini berlaku untuk para shahabat dan selain mereka. Ini juga yang menjadi pendapat faqih dan mufassir kontemporer, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, sebagaimana beliau kemukakan dalam Tafsirnya.

Dari penjelasan di atas, cukup jelas bagi kita bahwa ayat ini merupakan peringatan kepada orang-orang beriman, orang-orang yang tidak suka bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa yang mereka lakukan tidak cukup untuk menyelamatkan diri mereka dari bencana, jika mereka tetap membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran merajalela di sekitar mereka.

Jika ada yang menyatakan bahwa Allah ta’ala berfirman: وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (Dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain) (Disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an, yaitu pada: QS. Al-An’aam [6]: 164; QS. Al-Israa’ [17]: 15; QS. Faathir [35]: 18; dan QS. Az-Zumar [39]: 7), كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ (Tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya) (QS. Al-Muddatstsir [74]: 38), dan لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ (Baginya pahala atas (kebaikan) yang dilakukannya, dan untuknya siksa karena (kejahatan) yang dilakukannya) (QS. Al-Baqarah [2]: 286), dan ini berarti seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, seseorang hanya akan disiksa akibat perbuatan dosanya sendiri. Maka, menurut Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsirnya, jawabannya adalah bahwa seseorang yang melihat kemungkaran merajalela, ia wajib mengubahnya, dan yang berdiam diri terhadap kemungkaran tersebut juga terkategori orang yang bermaksiat. Ia berdosa karena ridha terhadap kemaksiatan yang ada disekitarnya.

Kewajiban mengubah kemungkaran ini juga telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah ia dengan tangan, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati (dengan menunjukkan ketidak ridhaan terhadap kemungkaran tersebut), dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim [78], Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا

Artinya: “Perumpamaan orang yang komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang menumpangi sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang di bawah ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang di atas mereka. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja (kapal ini) pada bagian kita, kita tentu tidak akan menyusahkan orang-orang yang di atas kita’. Jika hal tersebut dibiarkan oleh orang-orang yang di atas, padahal mereka tidak menghendakinya, niscaya binasalah mereka semua, dan jika mereka mencegahnya, maka selamatlah semuanya.” (HR. Al-Bukhari [2493] Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya)

Hadits di atas menunjukkan pentingnya aktivitas al-amr bil ma’ruf dan an-nahy ‘anil munkar, jika umat Islam senantiasa melaksanakan aktivitas ini, niscaya umat ini akan selamat, dan sebaliknya jika tidak dilakukan, umat ini akan binasa secara keseluruhan, baik pelaku maksiat secara langsung maupun yang ridha dan membiarkan aktivitas mereka.

Allah bahkan mengancam orang-orang yang tidak melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar melalui lisan Rasul-Nya sebagai berikut:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Artinya: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan menimpakan hukuman atas kalian (karena meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar), kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan-Nya.” (HR. At-Tirmidzi [2169]. At-Tirmidzi berkata: ‘Hadits ini hasan’. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, Ath-Thabarani, Al-Baihaqi, dan yang lainnya)

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén