Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Tafsir Al-Qur'an

Fanatisme Kebangsaan

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpeganglah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Imam Qatadah rahimahullah –sebagaimana dikutip oleh Imam Ath-Thabari rahimahullah di kitab Tafsirnya– menyatakan maksud ‘tali Allah’ di ayat ini adalah Al-Qur’an. Ada juga yang menafsirkannya dengan perjanjian (dengan Allah), diin, dan Islam. Menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah dalam At-Tafsir Al-Munir, semuanya itu menunjuk hal yang sama.

Az-Zuhaili menyatakan ayat ini berisi perintah untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan perjanjian yang telah dibuat Allah ta’ala untuk manusia, serta larangan berpecah-belah selamanya. Ayat ini juga berisi perintah untuk komitmen pada persatuan, dengan landasan ketaatan pada Allah ta’ala.

Syaikh Ahmad Al-Maraghi rahimahullah dalam Tafsirnya menyatakan bahwa tali Allah ini adalah jalan-Nya yang lurus. Sebagaimana firman-Nya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Artinya: “Sesungguhnya (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am [6]: 153)

Selain menjelaskan bahwa tali Allah adalah jalan-Nya yang lurus, ayat di atas juga menjelaskan bahwa yang membuat berpecah-belah adalah jalan-jalan selain jalan-Nya. Menurut Al-Maraghi, salah satu dari jalan-jalan yang membuat bercerai-berai ini adalah fanatisme kebangsaan. Fanatisme inilah yang membuat suku ‘Aus dan Khazraj di masa lalu berperang. Fanatisme semacam ini jugalah yang dipilih oleh orang-orang Eropa di masa sekarang.

Sayangnya, sebagaimana disebutkan oleh Al-Maraghi, fanatisme semacam ini kemudian dibawa oleh bangsa Eropa ke negeri-negeri Islam. Hingga, kaum muslimin kemudian berbangga dengan bangsa dan tanah airnya masing-masing. Hingga orang-orang Turki menyeru pada fanatisme bangsa Turki. Demikian pula orang-orang Mesir, Irak dan lainnya. Mereka mengira kebangkitan itu bisa didapatkan melalui fanatisme semacam ini, padahal itu tidak benar.

Ikhwah fillah, kebangkitan yang hakiki, kejayaan yang kita idam-idamkan, hanya akan terwujud ketika kita bersatu dalam ketaatan kepada Allah. Berpegang teguh pada diinul Islam, Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjauhi semua jalan selain jalan yang dituntunkan oleh Allah ta’ala. Jalan-jalan selain jalan yang digariskan Allah ta’ala bukanlah jalan menuju kebangkitan, kejayaan dan persatuan, malah ia sebenarnya yang menyebabkan kita berpecah-belah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén