Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Ijtihad, Antara yang Menggampang-gampangkan dan Menyulit-nyulitkan

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Terkait pembahasan ijtihad di masa sekarang, kita perlu bersikap pertengahan, tidak bermudah-mudahan sampai-sampai menganggap setiap orang yang sekadar lulus kampus Syariah atau bisa bahasa Arab atau tamat satu atau dua kitab, langsung dianggap mampu berijtihad. Juga tidak mutasyaddid, sampai-sampai membuat kesan, tidak ada yang bisa mencapai derajat mujtahid di masa sekarang, dengan mengajukan syarat misalnya ijtihad hanya boleh dilakukan oleh orang yang hafal sekitar setengah juta hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Memang ada riwayat dari Imam Ahmad, bahwa beliau mensyaratkan seorang mufti harus hafal minimal 400 ribu hadits. Namun -wallahu a’lam- itu lebih ke arah kehati-hatian beliau, bukan syarat secara mutlak.

Selain syarat ini bisa jadi sulit diarahkan ke praktek fatwa Imam Abu Hanifah yang merupakan pimpinan Ahli Ra’yi, yang hadits di negeri dan masa beliau, tidak semelimpah di Hijaz atau pada masa setelah beliau. Juga, dalam banyak kitab ushul fiqih, syarat ini tidak dimasukkan sebagai syarat yang harus dipenuhi seorang mujtahid.

Imam Al-Ghazali, dalam kitab beliau Al-Mustashfa (Hlm. 469-470, Cet. Darul Hadits, Mesir) menyatakan salah satu syarat seorang mujtahid adalah mengenal (menguasai) hadits-hadits Ahkam, dan jumlah hadits Ahkam tersebut terbatas. Beliau juga menyatakan bahwa tidak wajib bagi mujtahid hafal hadits-hadits tersebut, yang penting ia memiliki kitab-kitab yang memuat hadits-hadits Ahkam tersebut, semisal Sunan Abi Dawud dan Ma’rifah As-Sunan Al-Baihaqi, yang ia bisa rujuk sewaktu-waktu ketika ia memerlukannya untk berfatwa. Meskipun tentu, jika ia mampu menghafalnya, itu lebih baik dan lebih sempurna.

Hal senada, diaminkan oleh pakar fiqih dan ushul fiqih kontemporer, Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, dalam kitab beliau Ushul Al-Fiqh Al-Islami (2/334, Cet. Darul Fikr, Damaskus). Beliau juga mengutip jumlah hadits Ahkam menurut Ibnul ‘Arabi, yaitu sekitar 3.000 (tiga ribu) hadits. Sedangkan menurut Imam Ahmad, jumlahnya sekitar 1.200 (seribu dua ratus) hadits.

Az-Zuhaili sendiri menyatakan, jumlah ini tidak benar-benar bisa dipastikan, karena ia tersebar di banyak kitab.

Dan, kembali perlu kita tegaskan, Az-Zuhaili, sebagaimana Al-Ghazali, tidak mensyaratkan hadits-hadits tersebut harus hafal di luar kepala.

Kita memang harus mengingatkan orang-orang yang terlalu bermudah-mudahan dalam urusan ijtihad, sehingga dengan mudahnya ia bisa me-marjuh-kan pendapat para imam madzhab, hanya dengan penjelasan -terlalu sederhana- dari ustadznya. Namun, jangan sampai pula, kita mengingatkan orang untuk tidak bersikap ekstrim, malah kita sendiri yang jatuh pada sikap ekstrim yang sebaliknya.

Pintu ijtihad, sebagaimana kata Az-Zuhaili dan banyak ulama lainnya, terus terbuka, dan setiap zaman memerlukan adanya para mujtahid, yang bisa menjawab berbagai macam persoalan manusia.

Kita perlu mendukung munculnya para mujtahid di zaman ini, salah satunya dengan tidak bermudah-mudahan dalam berijtihad, juga tidak memberi syarat melangit yang malah membuat kita -sadar atau tidak sadar- telah menutup pintu ijtihad tersebut.

Wallahu a’lam.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén