Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Ushul Fiqih & Qawa'id Fiqhiyyah

Kaidah “An-Naflu Awsa’u Minal Fardhi”

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Kaidah “an-naflu awsa’u minal fardhi” (النفل أوسع من الفرض), maksudnya adalah toleransi dalam perkara-perkara yang naflu (sunnah/mandub) itu umumnya lebih besar dan lebih luas dibandingkan perkara yang fardhu. Ada beberapa syarat yang diberlakukan untuk hal yang fardhu, sedangkan untuk naflu tidak. Ada yang diwajibkan untuk perkara fardhu, sedangkan untuk naflu tidak.

Contoh Kaidah:

  1. Dalam shalat sunnah, tidak wajib berdiri, boleh duduk, meski tidak ada uzur. Sedangkan shalat fardhu wajib berdiri, kecuali ada uzur.
  2. Saat safar, tidak wajib menghadap kiblat untuk shalat sunnah. Sedangkan shalat fardhu, meski dalam keadaan safar, tetap wajib menghadap kiblat.
  3. Tidak wajib mengulang tayammum untuk pelaksanaan beberapa kali shalat sunnah. Sedangkan untuk shalat fardhu, wajib mengulang tayammum tiap kali shalat fardhu.
  4. Tidak wajib mengulang atau memperbarui ijtihad dalam penentuan arah kiblat untuk pelaksanaan beberapa kali shalat sunnah. Sedangkan untuk shalat fardhu, wajib memperbarui ijtihadnya tiap kali shalat fardhu.
  5. Tidak wajib berniat di malam hari (tabyitun niyyah) untuk puasa sunnah, boleh niat puasa setelah terbit fajar sampai sebelum zawal (tergelincir matahari ke arah barat di tengah hari). Sedangkan untuk puasa fardhu, wajib niat di malam hari sebelum fajar.
  6. Ibadah nafilah boleh dibatalkan di tengah jalan, misal tidak jadi puasa di tengah hari setelah puasa sejak paginya, meskipun tidak ada uzur. Sedangkan untuk ibadah fardhu, jika telah dilakukan tak boleh lagi dibatalkan dan wajib diselesaikan (disempurnakan), kecuali ada uzur.

Pengecualian Dari Kaidah:

Kadang ada kondisi, perkara yang sunnah lebih sempit dan dipersulit atau dilarang, sedangkan yang fardhu dibolehkan dan tetap sah. Misal:

  1. Shalat fardhu tetap wajib dikerjakan oleh orang yang tidak menemukan dua alat thaharah (air untuk wudhu dan tanah untuk tayammum). Sedangkan shalat sunnah tidak dibolehkan.
  2. Orang yang telanjang karena tidak memiliki pakaian, ia tetap wajib mengerjakan shalat fardhu. Sedangkan shalat sunnah tidak boleh dikerjakan.
  3. Orang yang junub dan tidak mendapatkan dua alat thaharah (air untuk mandi wajib dan tanah untuk tayammum), saat shalat fardhu ia hanya boleh membaca Surah Al-Fatihah, karena ia fardhu atau rukun dalam shalat, dan tidak boleh membaca Surah atau Ayat yang lain, karena hukumnya hanya sunnah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Rujukan: Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Wa Tathbiqatuha Fi Al-Madzhab Asy-Syafi’i, karya Dr. Muhammad Az-Zuhaili, Juz 1, Hlm. 214-216.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Leave a Reply

Theme by Anders Norén