Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Kapan Anda Mengenal Sunnah?

Creative flat lay photo of workspace desk. Top view office desk with laptop, glasses, phone, pencil, notebook and plant on white color background. Top view with copy space, flat lay photography.

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Jika pertanyaan ini diajukan ke saya, saya akan jawab, sejak kecil, sejak awal belajar thaharah, wudhu, dan Shalat, saya sudah mengenal Sunnah, walhamdulillah. Amal fiqih para Guru dan kiyai kita, itu rata-rata berlandaskan madzhab Syafi’i, dan itu mengikuti Sunnah sesuai ijtihad Imam Asy-Syafi’i dan ulama pengikut madzhab beliau.

Jangan sampai anda sudah mempelajari fiqih madzhab sejak kecil, meski tidak mendalam, anda katakan saat itu anda belum mengenal Sunnah. Dan anda mengaku baru mengenal Sunnah setelah tahu pendapat Ibnu Taimiyyah, Al-‘Utsaimin, atau Al-Albani. Ini adalah kejahilan.

Saya menghormati Ibnu Taimiyyah, Al-‘Utsaimin, dan Al-Albani. Tapi menyandarkan “mengenal Sunnah” saat anda mengenal pendapat mereka, dan menganggap pelajaran fiqih sesuai madzhab Syafi’i yang anda dapatkan sejak kecil itu tidak sesuai Sunnah, ini adalah kejahilan, dan sikap tak punya adab terhadap para ulama.

Jika anda mengatakan pelajaran fiqih yang anda dapatkan di masa kecil tak menyebutkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau anda katakan Hadits yang dipakai dhaif, maka perlu kita katakan, tidak disebutkan dalil, bukan berarti tanpa dalil. Kalau mau dalil dan istidlal yang kuat dari madzhab Syafi’i, cobalah baca misalnya “Al-Majmu'” karya An-Nawawi, atau “Nihayatul Mathlab Fi Dirayatil Madzhab” karya Imam Al-Haramain. Dan tentang Hadits dhaif, anda perlu belajar betul-betul Ilmu Hadits, jangan-jangan Hadits tersebut shahih menurut para ulama Syafi’iyyah, meskipun dhaif menurut Al-Albani. Atau anda perlu belajar Ushul Fiqih, agar tahu kaidah dalam berhujjah dan beramal dengan Hadits.

Kalau pun anda mau serius “mengenal Sunnah” pada tingkat yang lebih baik, maka serius lah belajar ilmu-ilmu alat semisal Nahwu, Sharaf, Ushul Fiqih, dan lain-lain, kemudian telaah lah kuat-kuat kitab-kitab Tafsir, Syarah Hadits, dan Fiqih dari bahasanya yang asli, bahasa Arab. Kalau begini, bolehlah kita akui anda sudah naik level dalam “mengenal Sunnah”. Tapi kalau dulu dan sekarang tak ada perbedaan, kecuali sekarang sudah kenal Ibnu Taimiyyah, Al-‘Utsaimin, dan Al-Albani, sedangkan Nahwu tetap tidak paham, Ushul Fiqih tidak pernah belajar, baca kitab Arab yang paling sederhana tidak bisa, lalu apa alasan anda mengaku saat ini “mengenal Sunnah” dan dulu tidak?

Perlu diingat, pendapat Ibnu Taimiyyah itu ijtihad beliau, demikian juga pendapat Al-‘Utsaimin dan Al-Albani. Mungkin benar dan sesuai Sunnah, dan mungkin salah. Apakah anda mau katakan ijtihad Al-Albani itu Sunnah, sedangkan ijtihad Asy-Syafi’i itu pendapat manusia biasa yang tak perlu diikuti?

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Leave a Reply

Theme by Anders Norén