Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Kerendahan Hati Para Ulama dan Kepongahan Kita

Oleh: Abu Furqan Al-Banjari

Imam Malik terkenal dengan ‘laa adri’-nya. Imam Syafi’i masyhur dengan ‘pendapat saya benar, tapi ada kemungkinan salah, pendapat selain saya salah, tapi ada kemungkinan benar’. Imam Nawawi diriwayatkan membenci gelar ‘Muhyiddin’ yang disematkan ke beliau, padahal orang-orang menyatakan gelar tersebut pantas untuk beliau.

Inilah teladan para ulama, mentari di zamannya, yang terangnya pun masih kita rasakan sampai hari ini.

Mereka begitu tawadhu’, tidak suka membesarkan diri sendiri.

Apa susahnya bagi Malik berfatwa A, B atau C setiap ditanya orang, toh beliau ulama besar? Mengapa beliau lebih memilih berkata ‘saya tidak tahu’, yang mungkin saja dengan kalimat tersebut kredibilitas beliau jatuh di hadapan manusia?

Kalau pun beliau ragu dengan jawabannya, beliau kan bisa omong panjang lebar -seperti banyak orang sekarang- untuk menunjukkan pengetahuan beliau, walaupun sejatinya beliau tak bisa menjawab. Mengapa beliau lebih memilih berkata ‘laa adri’?

Mengapa asy-Syafi’i harus berkata bahwa pendapatnya ada kemungkinan salah? Mengapa beliau tidak berkata, ‘inilah pendapat yang sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah, yang menyelisihinya berarti menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah’, atau ‘yang tidak mengikuti pendapat saya berarti ia telah keluar dari manhaj yang lurus’, atau ‘inilah pendapat yang sesuai dengan dalil-dalil yang ada, yang berbeda berarti berbicara tanpa dalil’ atau semisalnya.

Asy-Syafi’i itu ulama besar pilih tanding. Menyatakan diri beliau sebagai standar kebenaran pun -mengikuti beliau dalam bab fiqih berarti di jalan yang haq, dan yang berbeda berarti menyimpang dari millah-, mungkin sekali beliau akan tetap punya banyak pengikut, tapi mengapa beliau tak mau melakukannya?

An-Nawawi pun setali tiga uang. Gelar ‘Muhyiddin’ (penghidup agama) itu disematkan orang-orang karena beliau memang dianggap layak mendapatkannya, tapi mengapa beliau malah menolaknya? Bukankah gelar itu akan meningkatkan prestise beliau?

An-Nawawi ini benar-benar berbeda dengan orang-orang sekarang. Sekarang ini orang ramai-ramai menggelari diri dengan berbagai gelar hebat. Ada yang menyatakan(*) dirinya ‘trainer no wahid’, ‘motivator Islami luar biasa, Allahu akbar’, ‘the best young islamic trainer’, ‘orator pengguncang dunia’, de el el, de es be. Padahal gelar tersebut mereka sendiri (atau tim) yang bikin dan disematkan ke dirinya, sembari ‘memaksa’ orang lain untuk menerima gelar tersebut.

Ada juga yang menggelari diri dengan kiyai haji, padahal ia hanya lulusan pesantren kilat. ‘Alim ‘allamah, padahal baca kitab saja belepotan, dll, dst. Mereka rela menerima gelar tersebut, bahkan bisa jadi selalu membanggakannya. Tapi mengapa an-Nawawi malah tidak senang diberi gelar yang memang dianggap layak untuk beliau?

Mengapa Malik, asy-Syafi’i dan an-Nawawi bersikap seperti itu? Apakah mereka tak pernah dengar teori ‘sugesti positif’? Jalan sukses menurut orang-orang sekarang adalah dengan mensugesti diri bahwa ia hebat, ia pasti bisa. Bahkan untuk mendukung sugesti tersebut, kadang ia harus melabeli dirinya dengan label serba hebat, agar ia nanti benar-benar menjadi orang hebat.

Tapi, mengapa orang yang benar-benar hebat macam Malik, asy-Syafi’i dan an-Nawawi malah ‘alergi’ dengan itu semua???

==============
(*) ilustrasi saja, tidak berdasar survey di lapangan, detilnya ada kemungkinan tidak valid, tapi esensinya benar-benar ada.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén