Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid

Oleh: Abu Furqan Al-Banjari

Salah satu kitab fiqih lengkap paling populer yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh penulis asli Indonesia adalah Kitab “Fiqh Islam” karya H. Sulaiman Rasjid. Kitab fiqih ini –menurut penerbit, Sinar Baru Algesindo–menjadi salah satu rujukan di sekolah menengah dan perguruan tinggi Islam di Indonesia dan Malaysia. Popularitas buku ini bisa dilihat dari seringnya cetak ulang terhadap buku ini. Buku yang saya miliki merupakan cetakan ke 40, tahun 2007. Cetakan pertama tak disebutkan, namun ‘Kata Pengantar’ dari HAMKA sedikit memberi gambaran. ‘Kata Pengantar’ tersebut bertahun 1954.

Salah satu kekuatan buku ini adalah merujuk langsung kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, tak fanatik terhadap satu madzhab, namun sekaligus tidak menafikan pendapat ulama-ulama madzhab tersebut. Ini merupakan kewajaran, karena sang penulis memang berasal dari kalangan ‘kaum muda’.

Perlu diketahui juga, H. Sulaiman Rasjid yang lahir tahun 1896 ini memperoleh pendidikan agama di Perguruan Tawalib, Padang Panjang, kemudian dilanjutkan di sekolah guru Mualimin, Mesir, setelah itu dilanjutkan ke Perguruan Tinggi Al-Azhar jurusan Takhashshush Fiqh di Kairo, Mesir. Dalam karir intelektual, beliau tercatat pernah menjadi Rektor mata kuliah Ilmu Fiqh di IAIN Jakarta pada tahun 1962 – 1964, dan menjelang masa pensiun, beliau diangkat menjadi Rektor IAIN Lampung.

H. Sulaiman Rasjid di kitab beliau Fiqh Islam mencantumkan satu kitab (ket: yang dimaksud dengan ‘kitab’ adalah ‘bab’ menurut lazimnya penulisan sekarang) bernama Kitab al-Khilafah. H. Sulaiman Rasjid mendefinisikan al-Khilafah dengan “suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad Saw. semasa beliau hidup, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Talib). Kepala negaranya dinamakan khalifah.

Beliau, sebagaimana banyak penulis kitab fiqih lainnya, menyatakan bahwa hukum mendirikan khilafah adalah kewajiban atas semua kaum muslimin. Berikut pernyataan beliau, “Kaum muslim (ijma’ yang mu’tabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan khilafah itu adalah fardu kifayah atas semua kaum muslim.” Beliau menyebutkan alasan kewajiban mendirikan khilafah adalah berdasarkan: (1) Ijma’ Shahabat, sehingga mereka (para shahabat) mendahulukan musyawarah untuk memilih khalifah daripada menyelesaikan pengurusan jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; (2) Kaidah Maa laa yatimmu al-waajib Illaa bihi fahuwa waajib, tidak mungkin dapat menyempurnakan kewajiban –misalnya membela agama, menjaga keamanan, dan sebagainya– selain dengan adanya khilafah; dan (3) beberapa ayat al-Quran dan al-Hadits.

Tentang berbilangnya pemimpin bagi umat Islam, H. Sulaiman Rasjid menulis, “Menurut asal hukum syara’ Islam, diwajibkan adanya pimpinan pemerintahan yang satu di seluruh negeri Islam sebagaimana yang ada di masa khalifah-khalifah di zaman keemasannya. Kata Mawardi dalam kitab Al-Ahkamus Sultaniyah, ‘Apabila terdapat dua imam di dua negeri Islam, pimpinan keduanya tidak sah, sebab pada umat Islam tidak boleh ada dua khalifah’.

Memang H. Sulaiman Rasjid termasuk ulama yang mentolerir berbilangnya pemimpin bagi umat Islam, seperti pernyataan beliau, “Adapun sesudah agama Islam tersiar meluas di seluruh dunia, timur dan barat, selatan dan utara, serta didorong pula oleh beberapa kepentingan dan dipaksa oleh keadaan-keadaan serta kesulitan-kesulitan politik, mau tak mau pimpinan Islamiyah (khalifah) pada abad kedelapan Masehi (kedua Hijriah) terjadi dua daulah Islamiyyah: (1) Daulah Abbasiyah di timur (Bagdad), (2) Daulah Umawiyyah di barat, di Andalus, yaitu Spanyol.

Atau pernyataan beliau, “Al-Khilafah dapat ditegakkan dengan perjuangan umat Islam yang teratur menurut keadaan dan tempat masing-masing umat, baik berbentuk nasional untuk sebagian kaum muslim yang merupakan suatu bangsa yang memperjuangkan suatu negara yang telah mereka tentukan batas-batasnya, sebagaimana telah terjadi mulai dari Khilafah Umawiyah, Khilafah Abbasiyah, dan lain-lain sesudah itu; khilafah-khilafah itu diakui dan ditaati oleh ulama muslimataupun berbentuk umum (internasional) untuk seluruh umat Islam sedunia.

Namun hal ini harus dilihat dari sisi:

(1) Beliau dengan sangat gamblang menyatakan bahwa hukum asal adalah hanya boleh ada satu khalifah bagi seluruh umat Islam;

(2) Kebolehan berbilangnya pemimpin merupakan kajian fakta dan sejarah umat Islam. Jika ada kajian fakta kontemporer yang lebih tajam dan mendalam yang menyebutkan bahwa sangat mungkin umat Islam bersatu dalam satu negara, di bawah pimpinan satu orang khalifah, maka tentu kita harus kembali ke hukum asal tersebut.

(3) H. Sulaiman Rasjid tetap menegaskan bahwa fardhu kifayah atau umat Islam sedunia berusaha mencari jalan untuk menyatukan pimpinan. Kewajiban ini tetap hingga tercapainya tujuan yang diinginkan.

Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi dengan banyaknya negara-negara yang dihuni oleh mayoritas umat Islam, tak mungkinkah mereka bersatu? Atau masalah sebenarnya bukan mungkin atau tidak mungkin, melainkan mau atau tidak mau? Masalah besar berikutnya adalah seluruh negara-negara tersebut tak menerapkan Syariah Islam secara kaffah, paling banter mungkin Arab Saudi, namun Arab Saudi pun tak menerapkan Syariah Islam dalam politik luar negeri, apalagi Indonesia.

Penjelasan H. Sulaiman Rasjid tentang Khilafah di kitab beliau, paling tidak bisa menyadarkan banyak tokoh umat Islam yang menjadi pionir penghalang perjuangan penegakan kembali Khilafah. Sikap anti mereka terhadap gagasan Khilafah merupakan suatu keanehan. Aneh, karena sejak dulu ulama telah bersepakat tentang kewajiban adanya Khilafah. Bahkan kewajiban itu kembali ditegaskan oleh seorang ulama asli Indonesia, H. Sulaiman Rasjid, di kitab beliau. Marilah kita berpikir.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Comments are Closed

Theme by Anders Norén