Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Melepas “Baju Afiliasi”

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Salah satu hal yang membuat seseorang sulit menerima kebenaran adalah, ketika ia tak mau sedikitpun melepas “baju afiliasi” saat berdiskusi ilmiah.

Ketika ia merasa sedang “berbaju Salafi”, maka semua konsep (aqidah, fiqih, manhaj, ushul maupun furu’) yang pernah ia terima dari afiliasi ini, akan ia pertahankan sebisa mungkin, apalagi jika harus berhadapan dengan kelompok satunya. Tak ada ceritanya mendengarkan betul-betul hujjah dari lawan. Yang ada adalah “kalahkan” dan “kalahkan”.

Demikian juga sebaliknya, sebagian yang “berbaju Aswaja”, tak pernah sedikit pun mau memperhatikan betul-betul argumentasi dari lawan diskusi. Yang ada adalah bantah dan bantah, kalau perlu cela dan habisi pribadi lawan diskusi.

Kalau sudah begini, tentu “proses mencari kebenaran” yang merupakan tradisi ulama salaf di masa lalu, tak akan pernah terwujud. Yang ada adalah pembelaan terhadap afiliasi. Jika bisa dibela secara ilmiah, maka pembelaannya secara ilmiah. Jika tak cukup secara ilmiah, namun harus dibarengi dengan “bullying”, maka itu pun dilakukan.

***

Kalau saya kadang, ketika mengemukakan sebuah konsep ke satu kalangan, yang konsep tersebut agak tabu di kalangan tersebut, saya akan menyebutkan dukungan terhadap konsep tersebut, dari tokoh yang menjadi rujukan mereka.

Misal, ketika ingin menyebutkan bahwa orang awam wajib taqlid pada para ulama, saya sebutkan pernyataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin yang mendukung hal tersebut.

Contoh lain, dulu, ketika pernah membahas status hadits yang menyatakan “yang pertama kali diciptakan oleh Allah ta’ala adalah Nur Muhammad”, saya membawakan pernyataan dari Syaikh ‘Abdullah Al-Ghumari, seorang ahli Hadits rujukan kalangan Sufi, yang menyatakan bahwa hadits tersebut dan yang semisalnya adalah hadits palsu.

Cara seperti ini, paling tidak, sedikit mendinginkan panasnya diskusi, karena yang kita ajak diskusi tentu perlu pikir-pikir dulu untuk membantah ulama rujukannya sendiri.

Catatan:
Penyebutan “Salafi” dan “Aswaja” di sini hanya sebagai contoh, ia berlaku juga untuk afiliasi lainnya.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

1 Comment

  1. Firman

    Alhamdulilah, syukran utk nasehatnya ustadz
    Barakallahu fiikum.

Leave a Reply

Theme by Anders Norén