Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Menepilah Sebentar

Oleh: Abu Furqan Al-Banjari

Dalam salah satu episode program Khalifah Trans7 —satu dari sedikit acara TV Nasional yang masih waras dan banyak manfaatnya—, diceritakan biografi hujjatul Islam, Imam al-Ghazali.

Di tengah-tengah kemasyhuran dan kenikmatan dunia yang beliau dapatkan, karena ilmu yang beliau miliki, beliau merasakan kekosongan. Beliau merasa ada yang keliru pada beliau saat itu. Demikian juga beliau melihat kehidupan orang-orang yang berilmu di sekitar beliau.

Akhirnya, beliau memilih ‘uzlah, meninggalkan popularitas dan semua penghormatan. Menyendiri, bertafakkur, dan merenung. Sampai beliau kemudian menemukan pencerahan. Setelah itu beliau tampil kembali di hadapan umat, namun dengan motivasi dan tujuan yang lebih lurus. Dari hasil perenungan beliau ini jugalah lahir kitab yang fenomenal, Ihya ‘Ulumiddin.

***

Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan ulama besar ini. Salah satunya adalah, kadang di titik tertentu kita harus ‘uzlah, menyepi dari hiruk-pikuknya dunia, menepi dari padatnya aktivitas harian kita. Kita perlu merenung, menafakkuri kehidupan dan perjalanan kita selama ini, sudahkah ia lurus, tetapkah ia di jalan yang benar.

‘Uzlah di sini tentu maksudnya bukan bertapa di hutan, atau berbulan-bulan di tepi kuburan. Bukan itu. Maksudnya adalah, kita perlu meluangkan waktu sendiri, cuti dari sibuknya aktivitas rutin kita, untuk berpikir dan bertafakkur, lebih jernih dan lebih murni. Jangan-jangan jalan yang kita tempuh selama ini keliru. Jangan-jangan motivasi kita selama ini hanya dunia yang sementara. Jangan-jangan kita bicara Islam untuk meraih dunia.

Tentu sembari terus meminta perlindungan pada Allah ta’ala, agar perenungan kita tidak dicampuri bisikan setan yang terkutuk.

Kadang rutinitas membuat otak dan anggota tubuh kita beraktivitas secara otomatis, tak melibatkan hati. Lisan kita begitu lantang membela Islam, namun hati kita mendustakannya. Mungkin, secara fisik kita rela berpanas-panasan seharian, demi ‘katanya’ membela Islam. Namun, ternyata bukan. Kita hanya ingin dianggap jagoan dan pahlawan.

Kadang kita dengan pongahnya berkata, kelelahan fisik tak akan mampu menghentikan kita. Namun, pernahkah kita, dengan rendah hati, merenung, jangan-jangan hati dan ruh kita yang lelah. Fisik mungkin masih kuat, tapi jika hati yang melemah, apa yang akan terjadi?

Mari, berilah diri kita kesempatan untuk merenung dan bertafakkur. Berhentilah sejenak. Menepilah sebentar.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén