Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Menghalalkan Zina dan Menghalalkan Riba, Samakah?

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Ada status FB dari salah satu pegiat dinar-dirham, yang isinya, “Satu doktor menghalalkan zina. Teramat banyak doktor menghalalkan riba. Adapun kekejian riba 36x berzina.” (Screenshot/tangkapan layar status yang bersangkutan bisa dilihat di: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=153904142472277&set=a.136634204199271&type=3&theater).

Jika yang dimaksud pada tulisan di atas adalah, ada satu doktor studi Islam yang menghalalkan zina, sedangkan banyak doktor studi Islam yang menghalalkan riba…, padahal riba lebih buruk dari zina, jika penghalal zina saja di…, maka penghalal riba harusnya juga… Maka saya tidak sepakat atas perbandingan ini.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Pembahasan seputar riba adalah bahasan seputar ‘illah riba, semisal apakah pada uang kertas terdapat ‘illat riba, sehingga ia dianggap barang ribawi, atau tidak. Banyak ulama kontemporer yang menganggapnya riba, termasuk Majma’ Al-Fiqh Al-Islami Ad-Duali.

Namun sebagian ulama kontemporer menganggap uang kertas hanya barang biasa (karena ia tidak lagi distandarisasi dengan emas dan perak), bukan barang ribawi, sehingga pertukarannya dengan sesama jenisnya tak harus tamatsul, atau menganggap bunga bank bukan riba, tapi transaksi pengembangan uang dengan cara baru, yang hukumnya mubah, seperti disampaikan oleh Dar Ifta Mishriyyah.

2. Saya sendiri ikut pendapat bahwa bunga bank adalah riba, sebagaimana pendapat banyak sekali ulama kontemporer, ditinjau dari sisi bahwa uang kertas tiap mata uangnya adalah tsaman (alat tukar) yang berlaku, sehingga berlaku ‘illat riba, yang berkonsekuensi pertukaran satu jenis mata uang harus tamatsul, taqabudh, dan hulul. Sedangkan pertukaran mata uang berbeda harus taqabudh, dan hulul.

Juga dari sisi, dharar “bunga” ini cukup terasa, sebagaimana dharar dari transaksi riba di masa lalu.

3. Namun tetap saja, persoalan “riba kontemporer” ini beda tingkat dengan “penghalalan zina mengikuti teori milkul yamin-nya Syahrur”. Dalam kasus penghalalan zina, tidak ada argumentasi yang bisa diterima, baik dari sisi tafsir, ushul fiqih, maqashid syariah, dan lainnya, kecuali hermeneutika ala Syahrur, yang menafsirkan milkul yamin secara serampangan, semaunya sendiri.

Sedangkan bahasan bunga bank dan uang kertas, ini bahasan seputar ada tidaknya ‘illat riba, dan ini persoalan rumit. Karena itu, faktanya ada sebagian ahli fiqih kontemporer yang menganggap bunga bank bukan riba.

Beda halnya dengan kasus penghalalan zina, tidak ada ulama fiqih kontemporer yang berpendapat itu, kecuali Syahrur sang tokoh liberal yang tidak punya tempat di kalangan fuqaha.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén