Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fatwa Ulama

Nama yang Mengandung Makna Tazkiyah (Pujian) Tidak Makruh Secara Mutlak

Pertanyaan:

Bolehkah menggunakan nama dengan Asma Allah Al-Husna? Apa hukum nama yang mengandung makna tazkiyah (pujian) dan tathayyur (dianggap mengandung kesialan jika ia tidak ada, penerj.)? Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama yang mengandung tazkiyah dan tathayyur ini? Dan apakah nama Mu’min (مؤمن) termasuk di dalamnya?

Jawaban:

Alhamdulillah, wash shalaatu was salaamu ‘ala Sayyidina Rasulillah.

Asma Allah Al-Husna (Nama-nama Allah yang indah), ada yang khusus bagi Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak dimutlakkan kecuali hanya untuk-Nya. Misalnya: Allah (الله), Ar-Rahman (الرحمن), Al-Khaliq (الخالق), dan lainnya yang tidak layak disandang kecuali oleh Allah ‘azza wa jalla. Dan tidak boleh bagi makhluk menggunakan nama ini.

Ada juga yang boleh dimutlakkan untuk Allah ‘azza wa jalla, juga untuk hamba. Misal: Al-Karim (الكريم), Al-‘Alim (العالم), dan lainnya. Karena nama-nama ini, jika dimutlakkan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia sesuai dengan keagungan, kesempurnaan dan kebesaran Allah ta’ala. Dan ketika ia disandarkan kepada makhluk, maka nama-nama ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kekurangan dan kelemahan makhluk.

Dan nama yang mengandung tazkiyah, tidak dimakruhkan secara mutlak. Ia makruh jika orang yang menggunakan nama ini, bertujuan untuk memuji dirinya sendiri dengan nama tersebut, dan seakan ia mengabarkan bahwa ia memiliki sifat kebaikan dan keimanan, sebagaimana makna yang terkandung dalam nama yang ia gunakan tersebut. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Zainab dulunya bernama Barrah (perempuan yang taat dan berakhlak mulia, penerj.), kemudian dikatakan: Ia memuji dirinya sendiri. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti namanya menjadi: Zainab.

Jika si pemilik nama tidak bertujuan berbangga-bangga dan meninggikan diri dengan namanya, maka tak masalah menggunakan nama itu. Bahkan, nama-nama yang indah, yang mengandung makna yang baik, mustahab (dianjurkan) hukumnya. Diharapkan orang yang menggunakan nama ini, bisa menghiasi dirinya sesuai makna namanya yang baik tersebut.

Sebaliknya, dimakruhkan menggunakan nama yang buruk, dan disunnahkan untuk mengganti nama yang buruk tersebut, sesuai Hadits riwayat Muslim, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama ‘Ashiyah (perempuan yang suka bermaksiat, penerj.), dan beliau bersabda: Kamu Jamilah (cantik/indah).

Dan nama Mu’min (مؤمن), bukan nama yang khusus bagi Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga bukan nama yang mengandung tathayyur ketika ia tiada. Karena sifat iman itu ada pada dirinya dan tidak tergambar ketiadaannya. Karena itu, kami tidak menganggapnya bermasalah, dan tidak perlu diubah. Wallahu a’lam.

Fatwa Dar Ifta Jordania

Diterjemahkan dari: http://aliftaa.jo/Question2.aspx?QuestionId=2832

Penerjemah: Muhammad Abduh Negara

Teks asli:

لا تُكره أسماء التزكية على إطلاقها

السؤال :

هل يجوز التسمي بأسماء الله الحسنى، وما حكم الأسماء المشتملة على معاني التزكية والتطيُّر، وهل قام النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ بتغيير الأسماء المشتملة على التزكية والتطيُّر، وهل يُعَدُّ اسم (مؤمن) منها؟

الجواب :

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله

أسماء الله الحسنى منها ما هو مختص به سبحانه وتعالى لا يُطلق إلا عليه، مثل: (الله)، و(الرحمن)، و(الخالق)، وغيرها مما لا يليق إلا بذاته عز وجل، ولا يجوز التسمي بها.

ومنها ما يصح إطلاقه على الله عز وجل وعلى العبد، مثل: (الكريم) و(العالم) وغيرها؛ لأنه عند إطلاقها على ذاته سبحانه وتعالى؛ فهي تليق به وبجلاله وكماله وعظمته، وعند إضافتها للمخلوق؛ فإنما تدل على معنى يليق بنقصه وضعفه.

وأسماء التزكية لا تُكره على إطلاقها، وإنما يُكره فيها أن يقصد الإنسان تزكية نفسه بهذا الاسم، وكأنه يُخبر عن اتصافه بما يحمله هذا الاسم من الشهادة بالصلاح والإيمان، روى الإمام مسلم عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ (زَيْنَبَ) كَانَ اسْمُهَا (بَرَّةَ)، فَقِيلَ: تُزَكِّي نَفْسَهَا، فَسَمَّاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (زَيْنَب).

فإذا لم يكن صاحِبُ الاسم مفتخرًا ولا متعاليًا باسمه؛ فلا حرج في التسمي به، بل إن الأسماء الحسنة التي تحمل معاني الخير والصلاح مستحبة، يُرجَى أن تَحمل صاحبها على التحلي بمعاني اسمه الحسن.

كما يُكره التسمي بالأسماء القبيحة، ويُسنُّ تغييرها؛ لخبر مسلم: أَنَّهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ غَيَّرَ اسْمَ (عَاصِيَةَ)، وَقَالَ: أَنْتِ (جَميلة).

واسم (مؤمن) ليس من الأسماء الخاصة بالله سبحانه وتعالى, ولا من الأسماء التي يُتطيَّر بنفيها؛ لأن صفة الإيمان ثابتة له ولا يُتصوَّر نفيها عنه؛ فلا نرى بأسًا به، ولا داعي لتغييره. والله أعلم.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén