Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Orang Yang Meminta Fatwa Harus Menghiasi Dirinya Dengan Ketaqwaan

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Al-Qaradhawi dalam kitabnya, Al-Fatwa Bayna Al-Indhibath Wa At-Tasayyub, menyatakan bahwa mustafti (orang yang bertanya persoalan hukum kepada mufti) harus menghiasi dirinya dengan ketaqwaan dan muraqabah (merasa terus diawasi Allah ta’ala), saat meminta fatwa. Ia tak boleh menjadikan fatwa yang diberikan seorang mufti, sebagai pembenaran baginya untuk melakukan sesuatu yang dalam hati sanubarinya sendiri, ia yakini itu haram.

Mufti memberikan fatwa tentang satu persoalan, sesuai gambaran yang diberikan mustafti. Mufti bisa saja berfatwa bahwa itu boleh atau halal, berdasarkan keterangan dari mustafti. Padahal, bisa jadi, mustafti tidak memberikan penjelasan secara utuh, dan itu ia sengaja, agar fatwa yang keluar adalah fatwa kebolehan. Seandainya ia jelaskan persoalannya secara lengkap, tanpa ada yang ditutup-tutupi, bisa jadi, mufti akan mengubah fatwanya, dan menyatakan bahwa hal tersebut haram hukumnya.

Mufti tidak salah, karena ia menjelaskan hukum sesuai zhahir yang ia lihat atau dengarkan, sebagaimana posisi qadhi. Mufti tak mengetahui hal-hal tersembunyi dari mustafti, kecuali jika ia disampaikan oleh mustafti. Jika tidak, maka mufti hanya menjelaskan sesuai zhahir yang ia terima. Yang salah pada kondisi ini adalah mustafti, bukan mufti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما أنا بشر وإنكم تختصمون إلي ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض وأقضي له على نحو ما أسمع فمن قضيت له من حق أخيه شيئا فلا يأخذ فإنما أقطع له قطعة من النار

Artinya: “Sesungguhnya saya hanya manusia. Kalian berselisih dan mengadukan perkaranya kepadaku. Bisa jadi sebagian kalian lebih fasih argumentasinya dari yang lain, dan saya memutuskan perkaranya sesuai dengan yang saya dengar. Jika saya memberikan keputusan yang menguntungkannya dengan mengambil hak saudaranya, janganlah ia ambil itu, karena saya telah memberinya potongan api neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pun, memutuskan perkara sesuai zhahir yang beliau dengar atau ketahui, apalagi orang selain beliau. Pada kondisi ini, qadhi atau dalam hal ini, mufti, tak bersalah. Yang bersalah adalah mustafti, yang memberikan keterangan yang tidak jelas, dengan tujuan menghalalkan yang haram.

Wallahu a’lam.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Leave a Reply

Theme by Anders Norén