Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Perbedaan Zina dan Musik

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Tulisan ini merupakan tanggapan atas status FB salah seorang facebooker, yang menulis: “Yang menghalalkan zina banyak yang mengkafirkan pelakunya, kalau yang menghalalkan musik gimana ya…” (Screenshot/tangkapan layar dari status yang bersangkutan, bisa dilihat di: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=153559059173452&set=a.136634204199271&type=3&theater).

Berikut ini poin-poin tanggapan saya:

1. Haramnya zina merupakan perkara yang mujma’ ‘alaih (disepakati oleh seluruh ulama) dan sekaligus ma’lum minad diin bidh dharurah (diketahui hukumnya oleh seluruh muslimin yang tinggal lama bersama komunitas kaum muslimin, baik ia orang alim maupun orang awam).

2. Yang mengingkari perkara yang ma’lum minad diin bidh dharurah divonis kafir, berdasarkan kesepakatan ulama (Lihat misalnya: Al-Asybah Wan Nazhair, karya As-Suyuthi).

3. Sedangkan keharaman musik, bukan perkara yang ma’lum minad diin bidh dharurah. Bahkan, meski sebagian ulama menyatakan ijma’ atas keharamannya, tapi pernyataan ijma’ ini pun tak sepenuhnya diterima oleh seluruh ulama.

4. Tentang musik, perlu diperjelas, yang diharamkan oleh para ulama adalah memainkan alat musik. Sedangkan hukum bernyanyi tanpa alat musik, ada pembahasan tersendiri.

Keharaman alat musik pun menurut para ulama, ada pengecualiannya, seperti bolehnya menggunakam duff (rebana) saat acara walimah.

5. Sebagian ulama membahas keharaman menggunakan alat musik, apakah ia haram li dzatihi atau haram li ghairihi. Yang menganggapnya haram li ghairihi, menyatakan keharamannya jika dianggap melalaikan dari mengingat Allah dan ibadah, juga jika disertai kemungkaran seperti minum minuman keras dan bersama para perempuan yang terbuka auratnya.

6. Kita akui, jika pun klaim ijma’ tak diterima, jumhur (mayoritas) ulama jelas mengharamkannya. Dan kita menolak orang yang bermudah-mudahan dalam bab ini, dan mencari-cari pendapat yang menganggapnya halal, hanya karena sesuai dengan hawa nafsunya.

7. Yang ikut pendapat halalnya menggunakan alat musik, karena telah mengkaji dalil dan istidlalnya, dan dengan ilmunya ia menganggap pendapat itu yang rajih, saya pribadi menghormatinya.

Tapi yang ikut pendapat kehalalannya, sekadar untuk mencari hal-hal yang mudah saja dalam agama, agar hawa nafsunya bisa diikutinya dengan dalih ada ulama yang membolehkan, maka hal ini tercela, sebagaimana tercelanya tatabbu’ rukhash yang sekadar mengikuti hawa nafsunya yang rendah.

8. Yang jelas, keharaman zina tidak satu tingkat dengan keharaman musik. Karena itu, seluruh ulama sepakat, yang menghalalkan zina divonis kafir. Sedangkan yang menghalalkan musik, dari yang saya tahu, tak ada yang memvonisnya kafir.

9. Yang merasa awam dalam agama, harap tahu diri, tidak usah berwacana aneh-aneh (meski hanya dalam bentuk pertanyaan/istifham inkari singkat). Perbanyak belajar, bukan perbanyak berwacana.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén