Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Tazkiyatun Nafs

Ringkaskan Kata-Kata Kita…

Ada satu buku terjemah yang saya referensikan kepada semua pembaca, buku yang sangat bermanfaat, “Fikih Akhlak” karya Musthafa al-‘Adawy. Pada tulisan kali ini, saya akan sedikit membagi hikmah dari satu bab dalam buku tersebut yang berjudul Setiap Kata Itu Pasti Tercatat.

Dalam Bukhari dan Muslim, ada satu riwayat tentang Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau sering mengingatkan manusia pada hari Kamis, lalu seseorang berkata kepada beliau, “Wahai Abdurrahman, aku begitu menyukai jika engkau mengingatkan kami setiap hari”. Kemudian beliau tanggapi, “Aku khawatir akan menjemukan kalian, maka aku memilih waktu yang tepat (tidak sering) untuk kalian dalam memberi nasihat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap kita”. Pelajaran yang begitu berharga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam riwayat Muslim, juga menganjurkan para khatib Jum’at untuk meringkas khutbahnya. Mari simak, “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan ringkasnya khutbahnya merupakan pertanda akan kecerdasan pemahamannya (imam dan khatib pada shalat Jum’at). Maka panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah, karena sebagian dari penjelasan (yang memukau) bagaikan sihir”.

Pembaca, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dua khabar diatas? Banyak pelajaran yang bisa kita gali, dan salah satu pelajaran utama adalah anjuran agama untuk mempersedikit kata-kata, bahkan dalam kebaikan. Siapa yang meragukan kebaikan kata-kata dalam nasihat Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu atau khutbah para khatib Jum’at, tapi agama menganjurkan agar mereka tak terlalu banyak mengumbar kata-kata. Karena banyaknya kata bisa jadi penyebab jemunya pendengar mendengarkan ajaran agama mereka, dan ini adalah sebuah keburukan. Maka, bagi para penganjur kebaikan, mari kita ringkaskan kata-kata kita.

Jika menganjurkan kebaikan saja kita dianjurkan untuk meringkas kata-kata kita, apalagi terhadap kata yang tak bermakna dan sia-sia. Islam menganjurkan kita untuk meninggalkannya. Apatah lagi kata-kata yang buruk?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Tiada suatu kata yang diucapkan melainkan didekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir” (TQS. Qaf: 18).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Comments are Closed

Theme by Anders Norén