Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fatwa Ulama

Shalat Isyraq, Pahala dan Waktunya

Pertanyaan:

Apakah ada shalat saat terbitnya matahari, dan kapan waktunya?

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam untuk Sayyid kita, Rasulillah.

Shalat syuruq (saat terbitnya matahari), oleh para ahli fiqih Syafi’iyyah disebut dengan “Shalat Isyraq”. Sebagian mereka menyatakan bahwa ia sebenarnya adalah Shalat Dhuha. Sedangkan yang lain menyatakan, keduanya berbeda.

Ar-Ramli rahimahullah berkata: “Adh-Dhuha… Ia adalah Shalat Isyraq, sebagaimana yang difatwakan oleh Al-Walid rahimahullahu ta’ala (maksudnya, ayah beliau, yaitu Imam Syihabuddin Ar-Ramli, penerj)” (Nihayatul Muhtaj).

Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata, Shalat Isyraq berbeda dengan Shalat Dhuha. Sebagaimana dinukil oleh Asy-Syarwani dalam Hasyiyah-nya terhadap Tuhfatul Muhtaj.

Dan dalil dari shalat ini adalah Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Artinya: “Siapa saja yang Shalat Shubuh secara berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala haji dan ‘umrah, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits hasan)

Ath-Thibi berkata: “Yaitu, kemudian ia shalat setelah matahari naik setinggi tombak hingga keluar dari waktu karahah. Dan shalat ini dinamakan Shalat Isyraq, dan ia adalah awal waktu Shalat Dhuha” (Silakan lihat “Mir’atul Mafatih” karya Al-Mubarakfuri).

Dan waktunya dimulai dari naiknya matahari setinggi tombak, sebagaimana dikatakan oleh para ahli fiqih, yaitu sekitar seperempat jam setelah terbitnya matahari. Dan itu untuk menghindari shalat pada waktu yang dilarang. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

Artinya: “Tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau menguburkan jenazah di waktu tersebut, yaitu ketika matahari terbit hingga ia meninggi, ketika tepat tengah hari hingga matahari bergeser ke arah barat, dan ketika matahari hampir tenggelam sampai ia benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim)

Siapa saja yang mengikuti Hadits yang menunjukkan keutamaan shalat ini, semoga Allah ‘azza wa jalla menetapkan pahala shalat ini untuknya, baik shalat ini dinamakan Shalat Dhuha atau Shalat Isyraq. Wallahu a’lam.

Fatwa Dar Ifta Jordania

Diterjemahkan dari: http://aliftaa.jo/Question2.aspx?QuestionId=3009#.XJBS-rjgrIV

Penerjemah: Muhammad Abduh Negara

Teks asli:

صلاة الإشراق أجرها ووقتها

السؤال :

هل هناك صلاة لشروق الشمس، وما وقتها؟

الجواب :

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله

صلاة الشروق، سماها فقهاء الشافعية “صلاة الإشراق”، قال بعضهم إنها صلاة الضحى نفسها، وقال آخرون إنها غيرها.

قال الرملي رحمه الله: “الضحى… هي صلاة الإشراق كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى” “نهاية المحتاج”.

وقال ابن حجر الهيتيمي رحمه الله إنها غيرها. كما نقله الشرواني في “حاشيته على تحفة المحتاج”.

ودليلها حديث أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ) رواه الترمذي وقال: “حديث حسن”.

قال الطيبي: “أي: ثم صلى بعد أن ترتفع الشمس قدر رمح حتى يخرج وقت الكراهة، وهذه الصلاة تسمى صلاة الإشراق، وهي أول الضحى” ينظر “مرعاة المفاتيح” للمباركفوري.

ووقتها يبدأ من ارتفاع الشمس قدر رمح كما يقول الفقهاء، أي بعد شروق الشمس بربع ساعة تقريباً؛ وذلك تجنباً للصلاة في وقت النهي، فعن عقبة بن عامر الجهنى رضي الله عنه قال: (ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ) رواه مسلم.

فمن امتثل الحديث الوارد في فضل هذه الصلاة يرجى من الله عز وجل أن يكتب له أجره، سواء سميت صلاة الضحى أم صلاة الإشراق. والله تعالى أعلم


Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén