Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah

A. Nama-nama Surah Al-Fatihah

Ibn Katsir menyatakan, surah ini dinamakan Al-Fatihah (الفاتحة) karena ia merupakan pembuka dari Al-Kitab dalam tulisan, sekaligus ia juga merupakan pembuka bacaan Al-Qur’an dalam shalat.

Ia juga disebut Ummul Kitab (أم الكتاب) menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Namun menurut al-Hasan dan Ibn Sirin, Ummul Kitab itu lebih tepat ditujukan pada Lauh Mahfuzh, bukan Al-Fatihah. Al-Fatihah ini juga disebut oleh para ulama dengan Ummul Qur’an (أم القرآن). Dinamakan Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, karena ia mengandung makna-makna Al-Qur’an keseluruhannya. Ibn Jarir berkata, setiap yang mengumpulkan setiap perkara atau menjadi pembuka dari suatu perkara, disebut sebagai ummun (induk).

Ia pun disebut juga as-Sab’u al-Matsani (السبع المثاني), hal ini karena ia dibaca berulang-ulang di dalam shalat.

Ia juga disebut Al-Hamd (الحمد) karena berisi pujian. Juga Ash-Shalah (الصلاة), sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Aku membagi ash-Shalah di antara Aku dan hamba-Ku dua bagian”. Ada juga yang menamakannya Ar-Ruqyah (الرقية), Al-Waqiyah (الواقية), Al-Kafiyah (الكافية), dan Asas Al-Qur’an (أساس القرآن).

B. Keutamaan Surah Al-Fatihah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih riwayat at-Tirmidzi:

Tidaklah Allah turunkan dalam Taurat, dan tidak pula dalam Injil, yang seperti Ummul Qur’an. Dan dia adalah tujuh yang berulang-ulang (as-sab’ul matsani). Dan dia –sebagaimana firman Allah dalam Hadits Qudsi– dibagi antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari:

Sungguh aku akan mengajarkanmu satu surah yang merupakan surah teragung dalam Al-Qur’an: alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, dia adalah tujuh yang berulang-ulang, dan al-Qur’an al-‘azhim yang diberikan kepadaku.

C. Makkiyyah atau Madaniyyah?

Makkiyyah adalah surah-surah yang diturunkan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Sedangkan Madaniyyah adalah surah-surah yang diturunkan setelah Nabi hijrah ke Madinah. Inilah pendapat jumhur.

Terkait surah Al-Fatihah, menurut Ibn ‘Abbas, Qatadah dan Abul ‘Aliyah, ia adalah surah Makkiyyah. Sedangkan menurut Abu Hurairah, Mujahid, ‘Atha ibn Yasar, dan az-Zuhri, ia adalah surah Madaniyyah. Ada juga yang menyatakan ia turun dua kali, sekali di Makkah, sekali lagi di Madinah. Ada juga yang menyatakan bahwa sebagian Al-Fatihah diturunkan di Makkah, sebagiannya lagi di Madinah, namun pendapat ini pendapat yang ganjil.

Pendapat yang terkuat, surah Al-Fatihah merupakan surah Makkiyyah. Hal ini didukung oleh firman Allah ta’ala dalam surah Al-Hijr ayat 87: وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ. Ayat ini berbicara tentang surah Al-Fatihah, sedangkan surah Al-Hijr merupakan surah Makkiyyah. Tidak mungkin surah Al-Hijr berbicara tentang surah yang belum diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, Al-Fatihah turun sebelum Al-Hijr ayat 87, dan bisa disimpulkan, surah Al-Fatihah merupakan surah Makkiyah.

D. Jumlah Ayat

Surah Al-Fatihah terdiri dari 7 ayat, dan ini merupakan kesepakatan para ulama. Namun mereka berbeda pendapat tentang pembagian 7 ayat tersebut, khususnya pada lafazh basmalah, apakah ia ayat tersendiri dalam Al-Fatihah, bagian dari ayat, atau malah tidak termasuk dalam Al-Fatihah.

E. Apakah Basmalah Salah Satu Ayat dari Al-Fatihah?

Seluruh ulama sepakat bahwa basmalah yang disebutkan di surah an-Naml merupakan bagian dari ayat dalam Al-Qur’an, yaitu:

إِنَّهُ مِن سُلَيْمنَ وَإِنَّهُ بِسْمِ الله الرحمن الرحيم

Namun mereka berbeda pendapat tentang apakah ia merupakan ayat dari al-Fatihah dan awal dari seluruh surah atau tidak. Muhammad ‘Ali ash-Shabuni, dalam Rawa-i’ul Bayaan, menyebutkan pendapat-pendapat tersebut, yaitu:

(1) Pendapat pertama, basmalah merupakan salah satu ayat dari al-Fatihah, dan dari seluruh surah. Ini merupakan pendapat dari madzhab asy-Syafi’i.

Az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir menyatakan bahwa ada dua qaul dari Imam asy-Syafi’i tentang hal ini, yaitu bahwa Basmalah merupakan salah satu ayat dari seluruh surah, dan qaul kedua menyatakan bahwa Basmalah merupakan ayat dari al-Fatihah saja dan tidak pada surah-surah yang lain. Ibnu Katsir menambahkan satu lagi qaul dari asy-Syafi’i, basmalah adalah bagian dari ayat (bukan ayat) di awal setiap surah. Dan dua pendapat terakhir ini, menurut Ibnu Katsir adalah pendapat yang gharib.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa sebagian ulama salaf dari kalangan shahabat dan setelahnya dihikayatkan mendukung pendapat bahwa Basmalah merupakan salah satu ayat dari seluruh surah, kecuali surah Bara’ah, di antaranya adalah: Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah, ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Atha, Thawus, Sa’id ibn Jubair, Makhul, az-Zuhri, ‘Abdullah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal (dalam salah satu riwayat), Ishaq ibn Rahawaih, dan Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Salam.

Kelompok ini berdalil dengan beberapa hadits, di antaranya:

إذا قرأتم الحمد لله رب العالمين، فاقرؤوا بسم الله الرحمن الرحيم، إنها أمّ القرآن، وأمّ الكتاب، والسبعُ المثاني، وبسم الله الرحمن الرحيم أحدُ آياتها

Artinya: “Jika kalian membaca alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim. Sesungguhnya ia adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, Tujuh yang Berulang. Dan bismillaahirrahmaanirrahiim adalah salah satu ayatnya” (HR. ad-Daraquthni dari Abu Hurairah. Az-Zuhaili menyatakan isnadnya shahih).

أنّ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كان يفتتح الصلاة ببسم الله الرحمن الرحيم

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka bacaan shalatnya dengan bismillaahirrahmaanirrahiim” (HR. At-Tirmidzi dari Ibn ‘Abbas, dan ia berkata, ‘laysa isnaaduhu bi-dzalik’, yang menunjukkan isnadnya tidak kuat).

Hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ketika ia ditanya tentang bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (di dalam shalat), ia menjawab, ‘Bacaannya panjang-panjang… Kemudian ia membaca: bismillaahirrahmaanirrahiim, alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, ar-rahmaanirrahiim, maaliki yawmid diin…’. (Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari. Ad-Daraquthni berkata: isnadnya shahih).

Juga hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu hari Rasulullah berada di hadapan kami, dan ia menunduk, kemudian beliau mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya, ‘Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?’, beliau menjawab, ‘Baru saja turun surah kepadaku’, kemudian beliau membaca, ‘bismillaahirrahmaanirrahiim, innaa a’thaynaakal kautsar, fa shalli lirabbika wanhar, inna syaani-aka huwal abtar’. (HR. Muslim, an-Nasaai, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa basmalah merupakan ayat dari al-Fatihah, sekaligus ayat dari setiap surah dalam Al-Qur’an, dengan dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya dalam surah al-Kautsar.

Mereka juga berargumen bahwa dalam mushhaf al-Imam (mushhaf standar yang ditulis di masa ‘Utsman) ditulis di dalamnya basmalah di awal al-Fatihah, dan di awal setiap surah, kecuali surah Baraa’ah. Demikian juga basmalah tersebut ditulis di mushhaf-mushhaf yang dikirim ke berbagai negeri yang disalin dari mushhaf al-Imam. Hal ini diterima dan diakui secara mutawatir, sedangkan mereka paham bahwa dalam mushhaf tidak boleh ditulis apapun selain Al-Qur’an, dan mereka sangat ketat dalam hal ini, hingga nama surah dan penanda-penanda penting pun tidak dimasukkan. Jadi, ketika dalam mushhaf tersebut tertulis basmalah di awal surah al-Fatihah dan surah-surah lainnya, itu menunjukkan basmalah tersebut memang bagian darinya.

(2) Pendapat kedua, basmalah bukan merupakan ayat dalam Al-Qur’an, bukan bagian al-Fatihah, bukan juga bagian dari surah yang lain. Ini adalah pendapat madzhab Imam Malik rahimahullah.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa yang berpendapat seperti ini adalah Malik, Abu Hanifah dan pengikut keduanya. Sedangkan az-Zuhaili menjelaskan bahwa walaupun Malikiyyah dan Hanafiyyah sama-sama menganggap basmalah bukan bagian dari surah al-Fatihah dan surah-surah lainnya (tentu kecuali yang terdapat di tengah surah an-Naml), namun ada perbedaan di antara mereka. Malikiyyah menyatakan basmalah memang bukan bagian dari Al-Qur’an, sedangkan Hanafiyyah menyatakan ia bagian dari Al-Qur’an, tapi tidak berada dalam surah, melainkan ia adalah pemisah antar surah.

Pendapat Hanafiyyah ini lebih tepat diletakkan di pendapat ketiga nanti, bukan di pendapat kedua ini.

Kalangan Malikiyyah, dalam menguatkan pendapatnya yang menyatakan basmalah bukan merupakan ayat dari surah al-Fatihah dan bukan bagian dari Al-Qur’an, dan dibaca serta ditulisnya ia hanyalah untuk tabarruk, berdalil dengan beberapa hadits berikut ini:

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يفتتح الصلاة بالتكبير، والقراءة بالحمد لله ربِّ العالمين

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalatnya dengan takbir, dan bacaannya dengan alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman. Mereka semuanya membuka bacaan shalatnya dengan alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dalam redaksi Muslim, dikatakan: “Mereka tidak menyebut bismillaahirrahmaanirrahiim, tidak di awal bacaan, tidak juga di akhir”.

Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: “Aku bagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta…” (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Kemudian disebutkan ayat-ayat al-Fatihah, dan tidak disebutkan basmalah padanya. Pendukung pendapat ini menyatakan, firman Allah, ‘Aku bagi shalat’ maksudnya adalah al-Fatihah. Surah ini dinamakan ‘shalat’ karena shalat tak sah tanpanya. Seandainya basmalah salah satu ayat dari al-Fatihah, tentu ia disebutkan dalam hadits qudsi ini.

Mereka juga berargumen bahwa seandainya basmalah bagian dari al-Fatihah, maka terjadi pengulangan pada frase ‘arrahmaanirrahiim’ di surah tersebut. Pengulangan seperti ini merupakan cela dari sisi kefasihan bahasa, dan tidak layak terdapat pada Al-Qur’an.

Tentang penulisannya di awal setiap surah, itu adalah untuk tabarruk (meraih berkah), mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya untuk menulisnya, serta ia memang diminta diletakkan di awal setiap perkara, bukan berarti ia adalah bagian dari Al-Qur’an. Meskipun penulisannya di awal setiap surah diriwayatkan secara mutawatir, namun keberadaannya dalam mushhaf tersebut sebagai bagian dari Al-Qur’an tidaklah mutawatir.

Al-Qurthubi dan Ibnul ‘Arabi merajihkan pendapat kedua ini.

(3) Pendapat ketiga, basmalah merupakan ayat yang sempurna dan tersendiri dalam Al-Qur’an, diturunkan sebagai pemisah antar surah, dan bukan ayat dari Al-Fatihah. Ini adalah madzhabnya Abu Hanifah dan pengikutnya.

Ini juga merupakan pendapat Dawud dan salah satu riwayat dari Ahmad ibn Hanbal.

Kelompok ini menyatakan bahwa penulisannya dalam mushhaf menunjukkan bahwa basmalah adalah bagian dari Al-Qur’an, namun tidak menunjukkan bahwa ia adalah ayat dari setiap surah. Sedangkan hadits-hadits yang menunjukkan tidak dibacanya basmalah secara jahr (nyaring) dalam shalat saat membaca al-Fatihah menunjukkan bahwa ia bukanlah bagian dari al-Fatihah. Jadi kesimpulannya, basmalah merupakan ayat yang sempurna dari Al-Qur’an (selain dari surah an-Naml yang sudah disebutkan di awal), dan ia diturunkan untuk menjadi pemisah antar surah.

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan riwayat dari para shahabat, mereka berkata, “Dulu kami tidak mengetahui akhir setiap surah, hingga turun bismillaahirrahmaanirrahiim.” (Riwayat Abu Dawud).

Demikian juga, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu tidak mengetahui pemisah surah hingga turun kepadanya bismillaahirrahmaanirrahiim (HR. Abu Dawud dan al-Hakim, dengan isnad yang shahih).

Pendapat ini juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa surah al-Mulk terdiri dari 30 ayat, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ahli qiraat dan lainnya juga sepakat bahwa surah al-Mulk terdiri dari 30 ayat, jika basmalah tidak dimasukkan. Jika basmalah dimasukkan, maka ia menjadi 31 ayat, dan ini menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ahli qiraat dan ahli fiqih dari berbagai penjuru negeri sepakat bahwa surah al-Kautsar terdiri dari 3 ayat, dan surah al-Ikhlash terdiri dari 4 ayat. Jika ditambah basmalah, maka jumlahnya akan lebih dari itu, dan ini menyelisihi kesepakatan ulama qiraat dan fiqih.

Berdasarkan argumentasi di atas, Muhammad ‘Ali ash-Shabuni menguatkan pendapat ketiga ini. Dan beliau menyatakan bahwa ini adalah madzhab pertengahan di antara dua pendapat sebelumnya yang kontradiktif.

F. Hukum Membaca Basmalah Dalam Shalat

Muhammad ‘Ali ash-Shabuni menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Berikut pendapat-pendapat yang ada:

(1) Pendapat pertama, tidak boleh membaca basmalah dalam shalat wajib, baik jahr (nyaring) maupun sirr (pelan), tidak pada awal al-Fatihah, tidak juga pada awal setiap surah. Namun mereka membolehkan membacanya di shalat nafilah. Ini adalah pendapat Imam Malik rahimahullah dan para pengikutnya.

(2) Pendapat kedua, basmalah dibaca di awal al-Fatihah di setiap raka’at shalat secara sirr. Ini adalah pendapat Imam Abi Hanifah rahimahullah dan para pengikutnya.

(3) Pendapat ketiga, basmalah wajib dibaca, dalam shalat jahr dibaca secara jahr, dalam shalat sirr dibaca secara sirr. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan para pengikutnya.

(4) Pendapat keempat, basmalah dibaca secara sirr dalam shalat, dan tidak disunnahkan men-jahr-nya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad rahimahullah.

Perbedaan pendapat ini disebabkan oleh perbedaan mereka memahami apakah basmalah bagian dari al-Fatihah atau bukan.

G. Makna Ayat بسم الله الرحمن الرحيم

1. Makna Umum Basmalah

Az-Zuhaili menyebutkan makna umum dari basmalah, yaitu:

“Saya memulai dengan menyebut nama Allah, mengingat-Nya dan bertasbih kepada-Nya sebelum segala sesuatu. Memohon pertolongan kepada-Nya dalam seluruh urusanku, karena Dia adalah rabb yang disembah secara haq, rahmat-Nya luas meliputi segala sesuatu, pemberi nikmat dengan seluruh nikmat yang agung dan menyeluruh, pemberi keutamaan dengan keutamaan, rahmat dan kebaikan yang terus-menerus.”

2. Basmalah Dari sisi Nahwu (Kaidah Bahasa Arab)

Bismi (بسم) merupakan jar-majrur, dan ia terhubung dengan kata yang dihilangkan (mahdzuf).

Ulama nahwu berbeda pendapat tentang posisi ‘bismi’ ini terkait posisinya dengan kata yang mahdzuf. Ada dua pendapat tentang hal ini, yaitu:

(1) Madzhab Bashrah menyatakan bahwa kata ‘bismi’ dalam posisi rafa’, dan ia menjadi khabar dari mubtada’ yang mahdzuf. Perkiraan kalimatnya adalah ‘ibtidaa-i bismi’ (ابتدائي بسم).

(2) Madzhab Kufah menyatakan bahwa kata ‘bismi’ dalam posisi nashab, menjadi maf’ul bih dari fi’il muqaddar. Perkiraan kalimatnya adalah ‘ibtada’tu bismi’ (ابتدأت بسم).

Lafazh Allah (الله) menjadi mudhaf ilayh, dan hukumnya majrur.

Lafazh Ar-Rahman (الرحمن) menjadi na’at atau sifat dari lafazh Allah, dan ia mengikuti i’rab-nya.

Lafazh Ar-Rahim (الرحيم) menjadi na’at kedua dari lafazh Allah, dan ia juga mengikuti i’rab-nya.

3. Makna Lafazh Allah

Ibn Katsir menyatakan lafazh Allah merupakan nama dari Rabb tabaaraka wa ta’aalaa. Ada juga yang menyatakan bahwa ia adalah al-ismul a’zham (nama yang teragung), karena ia disifati dengan seluruh sifat, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surah Al-Hasyr ayat 22-24:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ * هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ * هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Lafazh Allah adalah nama yang khusus bagi-Nya, tidak ada selain-Nya yang menggunakan nama ini.

Sebagian ulama nahwu menyatakan bahwa ia isim jamid, dan bukan isim musytaq (kata yang diturunkan dari kata yang lain). Al-Qurthubi menukilkan dari sekelompok ulama seperti asy-Syafi’i, al-Khaththabi, Imam al-Haramain, al-Ghazali, dan lainnya, serta diriwayatkan juga dari al-Khalil dan Sibawaih bahwa alif lam dalam lafazh Allah merupakan alif dan lam lazimah (asli, bukan tambahan). Artinya, ia bukan alif lam tambahan untuk me-ma’rifah-kan isim yang nakirah, sebagaimana kita pahami dalam pembahasan nakirahma’rifah dalam ilmu nahwu.

Al-Khaththabi berkata, “Bukankah engkau katakan, Ya Allah (يا الله), dan tidak engkau katakan Ya Ar-Rahman (يا الرحمن). Seandainya alif lam tersebut bukan bagian asli dari kata, tentu harf nida tidak bisa diletakkan sebelumnya.”

Sebagian ulama lain menyatakan lafazh Allah merupakan lafazh musytaq (bentukan). Ada yang menyatakannya berasal dari kata al-Ilaahah (الإلاهة) yang berarti ibadah, ada yang menyatakan berasal dari kata at-ta’alluh (التأله) yang berarti ta’abbud, dan lain-lain.

4. Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Ar-Rahman dan Ar-Rahim merupakan dua nama Allah subhanahu wa ta’ala, dan keduanya bentukan (musytaq) dari kata ar-Rahmah. Ada juga yang menyatakan keduanya bukan isim musytaq. Bahkan ada yang menyatakan bahwa kata Ar-Rahman bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa Ibrani. Ahmad ibn Yahya berkata, Ar-Rahim berasal dari bahasa Arab, sedangkan Ar-Rahman berasal dari bahasa Ibrani.

Al-Khaththabi berkata:

“Ar-Rahman adalah pemilik rahmat yang menyeluruh, yang memberikan rezeki dan berbagai kemaslahatan untuk seluruh makhluknya, untuk orang beriman maupun orang kafir. Dan Ar-Rahim adalah khusus untuk orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah ta’ala, ‘wa kaana bil-mu’miniina rahiimaa’.”

Lafazh Ar-Rahman lebih besar rahmatnya dibanding Ar-Rahim, karena Ar-Rahman rahmatnya lebih umum, di dunia dan akhirat, untuk orang beriman dan orang kafir, sedangkan Ar-Rahim khusus orang beriman saja.

Al-Qurthubi berkata:

“Mayoritas ulama menyatakan bahwa nama Ar-Rahman khusus bagi Allah ‘azza wa jalla, tidak boleh ada selain-Nya yang menggunakan nama ini.”

Diriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata:

“Ar-Rahman merupakan nama yang tidak mungkin manusia mampu menggunakannya, dinamakan dengan nama ini Dzat yang Mahasuci dan Mahatinggi.”

Ash-Shabuni berkata:

“Tidak boleh menggunakan nama Ar-Rahman secara mutlak kepada selain Allah ta’ala, karena ia khusus bagi-Nya jalla wa ‘alaa. Berbeda dengan Ar-Rahim, ia bisa juga digunakan oleh makhluk, sebagaimana firman Allah ta’ala, ‘bil-mu’miniina ra-uufur rahiim’.”

Wallahu a’lam bish shawwab.

H. Makna Ayat الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعلَمِينَ

Terjemahnya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

‘Al-hamdu’ artinya pujian sekaligus penghormatan dan pengagungan terhadap sesuatu yang indah/baik.

Sedangkan makna ‘alhamdulillah’ adalah: “Bersyukur atau memuji kepada Allah, murni untuk-Nya, tanpa dibarengi untuk selain-Nya, terhadap seluruh nikmat dan kebaikan yang tak terhitung jumlahnya yang telah diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya”.

Muslim meriwayatkan dari Anas ibn Malik, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Artinya: “Sungguh Allah ridha terhadap hamba yang memakan suatu makanan lalu memuji-Nya, atau meminum suatu minuman, lalu memuji-Nya atas hal itu.”

Makna ‘Rabb’ adalah pemilik, yang mengurus dan memperbaiki, serta yang disembah.

‘Al-‘aalamiin’ adalah setiap jenis makhluk ciptaan Allah ta’ala. Manusia termasuk dalam ‘aalam, demikian pula jin, malaikat, hewan, tumbuhan, benda mati, dan lain sebagainya.

Ucapan ‘alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin’ ini memiliki banyak keutamaan. Sebagian ulama bahkan menyatakan ucapan ini lebih utama dari ucapan ‘laa ilaaha illaLlaah’, karena ia berisi tauhid sekaligus pujian kepada Allah, sedangkan lafazh ‘laa ilaaha illaLlaah’ hanya berisi tauhid saja. Memang pendapat ini dibantah oleh kelompok ulama yang lain, yang menyatakan kalimat ‘laa ilaaha illaLlaah’ tetap paling utama, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun paling tidak ini menunjukkan posisi ucapan ‘alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin’ yang begitu tinggi hingga disejajarkan dengan kalimat tauhid ‘laa ilaaha illaLlaah’.

I. Makna Ayat الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Terjemahnya: “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Maknanya sudah dijelaskan saat pembahasan basmalah.

J. Makna Ayat ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Terjemahnya: “Yang menguasai hari pembalasan”.

Penyebutan Allah ta’ala sebagai penguasa hari pembalasan bukan berarti pengerdilan terhadap Allah, bahwa Dia hanya berkuasa saat itu. Di ayat sebelumnya telah disebutkan bahwa Allah adalah rabbul ‘aalamiin, Tuhan pemilik semesta alam, penguasa seluruh makhluknya.

Penyandaran kekuasaan Allah di hari pembalasan ini maksudnya adalah di hari itu tidak ada kekuasaan sama sekali bagi selain-Nya, sedangkan di dunia mereka masih bisa berkuasa. Di hari itu tak ada yang bisa berbicara kecuali atas seizin-Nya. Hari itu tak ada sedikitpun kekuasaan yang dimiliki oleh makhluk-Nya.

‘Yawm ad-diin’ artinya hari pembalasan dan perhitungan. Di hari ini, setiap kebaikan akan dibalas kebaikan, dan setiap keburukan akan dibalas keburukan, kecuali bagi orang-orang yang mendapat pemaafan dari Allah ‘azza wa jalla.

K. Makna Ayat إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Terjemahnya: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan”.

Makna ‘iyyaaka na’budu’: “Ya Allah kami tunduk dan merendahkan diri dalam rangka penghambaan diri hanya kepada-Mu, karena Engkaulah satu-satunya yang berhak diagungkan dan dimuliakan, dan kami tidak menyembah selain hanya kepada-Mu.”

Makna ‘iyyaaka nasta’iin’: “Ya Tuhan kami, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dengan ketaatan dan ibadah kami kepada-Mu atas seluruh urusan kami. Tidak ada yang memiliki kekuatan untuk menolong kami selain Engkau. Jika orang-orang yang ingkar kepada-Mu memohon pertolongan kepada selain-Mu, maka kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu”.

Ayat ini berisi penegasan bahwa ‘ibaadah dan isti’aanah kita hanyalah kepada Allah ta’ala, bukan kepada apapun dan siapapun dari makhluk-makhluk-Nya. Barangsiapa tunduk patuh dalam segala hal kepada selain Allah seraya menyembah dan mengagungkannya, maka ia telah terjatuh pada perbuatan syirik. Demikian pula, barangsiapa meyakini ada yang memiliki kekuatan selain Allah yang bisa memberikan pertolongan dan keselamatan secara mutlak, kemudian ia meminta pertolongan kepadanya sebagaimana seorang hamba meminta pertolongan kepada Rabb-nya, maka ia juga telah terjatuh pada kesyirikan. Wal ‘iyaadzu billaah.

L. Makna Ayat اهْدِنَا الصِّرطَ الْمُسْتَقِيمَ

Terjemahnya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Makna ‘ihdinaa’ adalah: “Berilah kami petunjuk pada jalan yang lurus, bimbinglah kami menujunya, dan perlihatkan kepada kami jalan petunjuk yang bisa membuat kami sampai pada-Mu.”

Makna ayat ini secara keseluruhan: “Ya Allah, tetapkanlah kami atas keimanan, beri kami taufiq untuk melakukan amal-amal shaleh, dan jadikan kami orang-orang yang berjalan di jalan Islam hingga sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”

M. Makna Ayat صِرطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Terjemahnya: “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Makna ‘alladziina an’amta ‘alaihim’ adalah para Nabi, shiddiqin (orang yang selalu membenarkan Allah dan Rasul-Nya), syuhada (orang-orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah) dan orang-orang shalih. Hal ini ditunjukkan dengan jelas dalam firman Allah ta’ala pada surah an-Nisaa’ ayat 69:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Artinya: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”

‘Al-maghdhuubi ‘alaihim’ (yang dimurkai) maksudnya adalah orang-orang Yahudi. Ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

Artinya: “Orang-orang yang dikutuk oleh Allah dan dimurkai-Nya, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi.” (QS. Al-Maa-idah [5]: 60)

‘Adh-Dhaalliin’ (yang tersesat) maksudnya adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala:

قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Artinya: “Orang-orang yang telah sesat dahulunya, mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maa-idah [5]: 77)

Selesai dengan izin Allah ta’ala.

***

Maraji’:

1. Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Azhiim, karya Ibnu Katsir
2. Ma’aalim At-Tanziil fii Tafsiir Al-Qur’aan, karya Al-Baghawi
3. Al-Jaami’ li Ahkaam Al-Qur’aan, karya Al-Qurthubi
4. At-Tafsiir Al-Muniir, karya Wahbah Az-Zuhaili
5. Rawaai’ul Bayaan Tafsir Aayaat al-Ahkaam Min Al-Qur’aan, karya Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
6. Al-Jadwal fii I’raab Al-Qur’aan, karya Mahmud ‘Abdurrahim Shafi

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui social media seperti facebook, twitter dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Abu Furqan Al-Banjary

Abu Furqan Al-Banjary

Pemimpin Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin; Pengelola Situs abufurqan.net, Tsaqafah.Com, dan Fiqih-Islam.Com
Abu Furqan Al-Banjary

Latest posts by Abu Furqan Al-Banjary (see all)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *