Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Bahasa Arab dan Ikhtilaf dalam Fiqih Wudhu

Oleh: Abu Furqan Al-Banjari

Dalam fiqih wudhu, terdapat beberapa ikhtilaf ulama yang terkait dengan pemahaman bahasa Arab. Misal, apakah siku wajib dibasuh saat wudhu? Ayat wudhu menyatakan وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ, yang terjemahnya “dan (basuhlah) tangan-tangan kalian hingga ke siku”, dalam redaksinya terdapat kata ‘ilaa’, huruf jar yang biasa diterjemahkan dengan ‘ke’.

Dalam memahami makna ‘ilaa’, ulama berbeda pendapat. Ulama yang memahami makna ‘ilaa’ sebagai ‘al-ghayah’ (tujuan) menyatakan bahwa siku tidak wajib dibasuh, sedangkan ulama yang memahami makna ‘ilaa’ sebagai ‘ma’a’ (bersama) menegaskan siku wajib dibasuh.

Misal lain, berapakah kadar yang mencukupi dalam mengusap kepala saat berwudhu? Harus seluruh kepala yang diusap atau cukup sebagian saja? Ayat wudhu menyebutkan وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ, yang terjemahnya “dan usaplah kepala-kepala kalian”, dan dalam redaksinya terdapat kata ‘bi’.

Memahami makna ‘bi’ di sini para ulama lagi-lagi berbeda pendapat. Ada yang menyatakan ‘bi’ di sini sebagai ‘zaaidah’, tambahan yang bermaksud penegasan. Ada juga yang memahami makna ‘bi’ sebagai ‘at-tab’idh’ (menunjukkan sebagian). Yang memahaminya sebagai ‘zaaidah’ menyatakan bahwa yang wajib diusap adalah seluruh kepala, sedangkan yang memahaminya sebagai ‘at-tab’idh’ menyatakan bahwa sebagian kepala saja yang wajib diusap.

Demikian juga tentang apakah mata kaki wajib dibasuh (atau diusap) atau tidak wajib saat pembasuhan (atau pengusapan) kaki? Perbedaan ini karena perbedaan memahami makna ‘ilaa’ pada redaksi وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ, sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya dalam pembasuhan siku.

Terakhir sebagai contoh, apakah tertib dalam urutan wudhu mengikuti urutan yang disebutkan dalam ayat wudhu suatu yang wajib atau tidak? Ayat wudhu menyebutkan pembasuhan wajah, tangan, kemudian mengusap kepala, setelah itu membasuh kaki secara berurutan, pertanyaannya apakah urutan semacam ini wajib diikuti atau boleh tidak berurutan?

Ulama berbeda pendapat tentang hal ini, dan salah satu penyebabnya adalah perbedaan memahami fungsi ‘waw ‘athaf’ dalam ayat wudhu. Ada yang memahami ‘waw ‘athaf’ tersebut berfungsi menunjukkan tertib yang harus diikuti, ada juga yang memahami ‘waw ‘athaf’ tidak menunjukkan kewajiban tertib. Yang memahami ‘waw ‘athaf’ tidak menunjukkan kewajiban tertib, menyatakan bahwa mengikuti urutan wudhu yang disebutkan dalam ayat wudhu hukumnya sunnah saja, tidak wajib.

Dengan beberapa contoh di atas, semoga kita bisa semakin memahami eratnya hubungan bahasa Arab dengan fiqih Islam. Mendalami fiqih Islam tanpa keinginan mempelajari bahasa Arab, mirip dengan orang yang ingin membuat pesawat terbang, tapi tak mau belajar matematika.

Sumber: Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, pembahasan Ma’rifatu A’maalil Wudhu, dengan sedikit perluasan dari penulis.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén