Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Tafsir Al-Qur'an

Benarkah Ali ‘Imran 104 Mewajibkan Umat Islam Mendirikan Partai?

Imam ath-Thabari ketika menafsirkan kata ‘ummah’ pada surah Ali ‘Imran ayat 104, beliau mengartikannya dengan jama’ah. Lalu apakah yang dimaksud dengan jama’ah oleh beliau?

Setelah coba saya telusuri pemaknaan kata ‘ummah’ dengan makna ‘jama’ah’ di tafsir tersebut, dapat dipahami bahwa maksud jama’ah di sana adalah ‘sebagian umat Islam’, itu saja. Artinya, makna ayat ini adalah hendaknya ada sebagian umat Islam yang melaksanakan aktivitas yang disebutkan di ayat ini, titik.

Beliau tidaklah memaksudkan jama’ah tersebut harus berupa organisasi di bawah satu pemimpin, dan dengan aturan-aturan tertentu untuk anggota jama’ahnya.

Penyebutan kata ‘ummah’ yang berarti jama’ah (sebagian atau sekelompok orang) seperti ini misalnya juga bisa dilihat pada tafsir beliau di surah al-A’raaf ayat 159:

وَمِنْ قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

Ini juga yang dimaksudkan oleh Ibnu Katsir di kitab tafsir beliau, bahwa surah Ali ‘Imran ayat 104 maksudnya adalah hendaknya ada firqah (sekelompok orang) dari umat Islam yang melaksanakan apa yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Ath-Thabari juga menukil pernyataan adh-Dhahhak bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah khusus shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khusus para rawi.

Mufassir lain yang menyebut istilah jama’ah saat menafsirkan kata ‘ummah’ pada surah Ali ‘Imran 104 ini misalnya adalah Syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir as-Sa’di dalam kitab tafsir beliau ‘Taysir al-Karim ar-Rahman’, Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni dalam kitab tafsir beliau ‘Shafwah at-Tafasir’, dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsir beliau ‘at-Tafsir al-Munir’. Namun, makna jama’ah yang mereka maksud tidaklah berbeda dengan yang dipahami oleh ath-Thabari.

Saya -dengan sangat terbatasnya pengetahuan dan akses saya terhadap sumber ilmu- belum menemukan fuqaha dan mufassir yang dikenal luas keilmuannya di masa salaf, khalaf, maupun kontemporer yang menyatakan bahwa ayat ini merupakan dalil wajibnya mendirikan sebuah organisasi atau partai tertentu. Dan saya juga belum menemukan di masa lalu para ulama berbondong-bondong mendirikan organisasi atau partai tertentu untuk merealisasikan perintah dalam ayat ini.

Dan ayat ini dipahami oleh sebagian fuqaha sebagai dalil yang menunjukkan aktivitas dakwah/amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain, sebagaimana misalnya disebutkan oleh al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin. Dan, sebagaimana disebutkan di kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, yang memahami bahwa dakwah/amar ma’ruf nahi munkar hukumnya fardhu kifayah adalah mayoritas fuqaha. Wallahu a’lam.

Lalu, apa hukumnya mendirikan organisasi atau partai dengan sifat-sifat tertentu? Itu perlu kajian mendalam lagi, dan tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas hal tersebut secara terperinci.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén