Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Bid’ah Hasanah Tak Tercela

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Istilah “bid’ah hasanah”, “bid’ah mahmudah”, dan yang semakna dengannya, itu dikemukakan oleh para ulama besar, terutama oleh Imam Asy-Syafi’i dan fuqaha Syafi’iyyah.

Jika anda tak sepakat dengan istilah tersebut dan tak mau menggunakannya, silakan saja. Namun, membuat kesan, seakan yang menggunakan istilah tersebut tidak paham agama, ingin merusak agama, mengikuti hawa nafsu, dll, sangat berlebihan, dan dikhawatirkan termasuk melecehkan ulama.

Perlu dipahami juga, ketika ada istilah bid’ah hasanah, berarti ada juga bid’ah sayyiah (bid’ah yang buruk), bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela), bid’ah munkarah (bid’ah yang munkar), dan semisalnya.

Lalu apa yang membedakan keduanya?

Imam Asy-Syafi’i menjelaskannya:

البدعة بدعتان: بدعة محمودة وبدعة مذمومة، فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم

Artinya: “Bid’ah itu ada dua: bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Yang sesuai dengan As-Sunnah, ia terpuji. Sedangkan yang menyelisihi As-Sunnah, ia tercela.” (Hilyah Al-Auliyaa Wa Thabaqat Al-Ashfiyaa: 9/113)

Sebagian ulama Syafi’iyyah lainnya, seperti Imam Al-‘Izz bin ‘Abdis Salam dan lainnya, mendudukkan bid’ah pada ahkam khamsah (hukum taklifi yang lima), karena itu dikatakan ada bid’ah yang haram, bid’ah yang makruh, bid’ah yang mubah, bid’ah yang mandub, dan bid’ah yang wajib.

Semua ada kaidahnya, tak serampangan. Saat ada perkara baru yang terkait dengan urusan agama, yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka akan teliti apakah itu bertentangan dengan nash atau tidak, sesuai prinsip-prinsip Syariah atau bertentangan, terdapat dalil umum yang menjadi payungnya atau tidak, dan seterusnya.

Dari hasil penelitian inilah, lahir penilaian mereka, apakah ia bid’ah hasanah atau bid’ah sayyiah.

Saya paham, sebagian ulama, misalnya Imam Asy-Syathibi dan lainnya, tak menerima pembagian ini dan lebih memilih menyatakan bahwa kalau disebut bid’ah, berarti ia tercela. Namun semuanya tetap perlu penelitian dan pengkajian, tak sesederhana pikiran sebagian orang sekarang.

Dan yang lebih penting dilakukan saat ini adalah, meneliti dan mengkaji berbagai paham dan amaliyah yang berkembang saat ini, apakah ia punya landasan dalam Syariah atau bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariah. Wallahu a’lam.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén