Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Cara Ahlus Sunnah Dalam Berhadapan Dengan Dalil

Oleh: Abu Furqan Al-Banjari

Dalam Siyar A’laam an-Nubala, dinukil perkataan Imam Asy-Syafi’i:

إذا صح الحديث فهو مذهبي ، وإذا صح الحديث، فاضربوا بقولي الحائط

“Jika ada satu hadits shahih, maka itu adalah madzhabku. Dan jika ada satu hadits shahih (bertentangan dengan pendapatku), maka lemparkanlah pendapatku ke dinding.”

Di kalangan penuntut ilmu, kata-kata sang imam ini sudah sangat masyhur. Lalu untuk apa disampaikan lagi perkataan beliau ini di tulisan ini?

Yang pasti, tentu bukan untuk merendahkan pendapat-pendapat yang beliau pilih, dan dengan begitu sembrono mengatakan pendapat beliau yang ini atau yang itu bertentangan dengan hadits shahih, tanpa modal keilmuan yang mencukupi dan penelitian yang mendalam. Bukan untuk itu.

Ada pelajaran yang lebih penting. Yaitu, sikap beliau yang memposisikan As-Sunnah (dan tentu juga Al-Qur’an Al-Karim) di atas pendapat beliau. Pendapat beliau harus ditimbang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, jika sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah pendapat tersebut diambil, dan jika bertentangan dengan keduanya, ia dibuang.

Inilah prinsip yang disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah, salaf maupun khalaf. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah standar kebenaran, bukan sebaliknya.

Dalam realita penerapannya, memang memungkinkan terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan ulama di dalamnya. Hal ini karena Al-Qur’an dan As-Sunnah memang membuka peluang untuk itu, sebagaimana ma’ruf di kalangan penuntut ilmu.

Sebaliknya, ahlul bid’ah, kalangan pengikut hawa nafsu, melakukan langkah sebaliknya. Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘hanya’ mereka jadikan stempel untuk menjustifikasi pendapat-pendapat mereka.

Teknisnya, mereka pegang suatu pendapat, entah itu pendapat syaikhnya, atau pendapat kelompoknya, dan yang semisalnya. Setelah itu mereka berusaha keras mempertahankan pendapat tersebut, dengan comot sana-sini ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang sesuai dengan pendapat tersebut, sedangkan ayat dan Hadits yang tak mendukung mereka lempar ke dinding!!!

Mungkin ada yang menganggap, itu kan bisa saja karena ia menganggap pendapat tersebut kuat, hingga ia mempertahankannya. Jawaban atas ini adalah, dua hal tersebut berbeda.

Dari sisi motivasi, ahlul bid’ah ini motivasinya memang bukan untuk mencari kebenaran, sehingga ia bisa menerima kebenaran dari manapun datangnya. Motivasinya adalah mempertahankan pendapat yang ia pegang, bagaimanapun caranya. Walaupun telah jelas baginya pendapat tersebut lemah, tetap ia pertahankan.

Saat berdiskusi ilmiah pun, ia hanya sibuk membela dan menguatkan pendapat yang ia pegang, walaupun itu sudah keluar dari koridor ilmiah. Ia tak peduli dengan argumentasi lawan diskusi, tak berusaha memahaminya pelan-pelan, dengan kerendahan hati. Baginya, argumentasi lawan diskusi itu untuk dipatahkan dan dijatuhkan, bukan untuk dipahami, dipelajari dan jika memang benar diambil.

Semoga kita bisa terhindar dari buruknya sikap para pengikut hawa nafsu ini.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén