Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

'Ulumul Qur'an

Definisi dan Nama-Nama Al-Qur’an, serta Perbedaannya dengan Al-Hadits Al-Qudsi dan Al-Hadits An-Nabawi

A. Definisi Al-Qur’an

Secara bahasa, al-Qur’an (القرآن) merupakan sinonim dari al-Qiraah (القراءة), mashdar dari qara’a (قرأ), yang berarti ‘mengumpulkan dan menggabungkan antar huruf dan kata secara rapi dan teratur’.

Adapun secara istilah, syaikh Manna’ al-Qaththan menjelaskan bahwa al-Qur’an sulit didefinisikan secara manthiqi (rasional), dengan batasan yang sangat jelas. Namun begitu, beliau tetap mengajukan definisi dari para ulama, yang menurut beliau paling mendekati makna al-Qur’an dan paling jelas menunjukkan perbedaannya dengan yang lain.

Definisinya adalah:

كلام الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المتعبد بتلاوته

Artinya: “Kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membacanya dinilai sebagai ibadah.”

Makna kalam mencakup seluruh jenis kalam (perkataan). Penyandarannya kepada Allah, menjadi Kalamullah, mengeluarkan seluruh kalam dari selain-Nya, baik kalam manusia, kalam jin, maupun kalam malaikat.

Frase ‘yang diturunkan’ mengeluarkan semua jenis Kalamullah yang ada pada perbendaharaan-Nya, yang tidak diturunkan kepada manusia dan makhluk lainnya.

Frase ‘kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’ mengeluarkan semua Kalamullah yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Taurat, Injil, dan lainnya.

Frase ‘yang membacanya dinilai sebagai ibadah’ mengeluarkan semua qiraat ahad (tidak mutawatir) dan hadits qudsi –jika kita beranggapan hadits qudsi lafazh-lafazhnya juga berasal dari Allah ta’ala–. Yang membaca al-Qur’an, baik dalam shalat maupun di waktu lainnya, dinilai sebagai ibadah, sedangkan qiraat ahad dan hadits qudsi tidak dinilai ibadah.

Demikianlah definisi al-Qur’an, yang menurut Manna’ al-Qaththan, paling mendekati hakekat dari al-Qur’an tersebut.

B. Nama-nama Al-Qur’an

Al-Qur’an memiliki beberapa nama, yaitu:

(1) Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. Al-Isra’ [17]: 9)

(2) Al-Kitab, sebagaimana firman Allah ta’ala:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kalian Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kalian.” (QS. Al-Anbiyaa [21]: 10)

(3) Al-Furqan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Artinya: “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan [25]: 1)

(4) Ad-Dzikr, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9)

(5) At-Tanzil, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya ia benar-benar diturunkan (tanzil) oleh Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 192)

C. Perbedaan Al-Qur’an dengan Al-Hadits Al-Qudsi

Pertama

Al-Qur’an al-Karim adalah Kalamullah yang diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh-Nya. Dengan al-Qur’an ini orang Arab ditantang, tetapi mereka tak mampu membuat seperti al-Qur’an ini, atau sepuluh surah yang serupa, bahkan satu surah sekalipun. Tantangan tersebut tetap berlaku, karena al-Qur’an merupakan mukjizat yang abadi hingga hari kiamat.

Sedangkan al-Hadits al-Qudsi tidak untuk menantang dan bukan merupakan mukjizat.

Kedua

Al-Qur’an al-Karim hanya dinisbahkan kepada Allah ta’ala, sehingga dikatakan: Allah ta’ala telah berfirman (قال الله تعالى).

Sedangkan al-Hadits al-Qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah ta’ala, dan nisbah kepada Allah ini merupakan nisbah insya’ (نسبة إنشاء), maka dikatakan: Allah ta’ala telah berfirman (قال الله تعالى) atau Allah ta’ala berfirman (يقول الله تعالى). Dan terkadang juga diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, nisbah ini merupakan nisbah ikhbar (نسبة إخبار) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyampaikan hadits tersebut dari Allah, maka dikatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang apa yang diriwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla (قال رسول الله صلى الله عليه و سلم فيما يرويه عن ربه عز و جل).

Ketiga

Al-Qur’an al-Karim keseluruhannya diriwayatkan secara mutawatir (منقول بالتواتر), sehingga kedudukannya qath’iy ats-tsubut (pasti, tanpa ada keraguan sedikitpun, bahwa ia berasal dari Allah ta’ala).

Sedangkan al-Ahaadits al-Qudsiyah (الأحاديث القدسية, jamak dari al-Hadits al-Qudsi) kebanyakannya adalah akhbaar ahaad (أخبار آحاد), sehingga kedudukannya zhanniyah ats-tsubut (diduga, tidak bisa dipastikan 100% penyandarannya kepada Allah ta’ala atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ada kalanya al-Hadits al-Qudsi itu shahih, kadang-kadang hasan dan terkadang juga dha’if.

Keempat

Al-Qur’an al-Karim dari Allah, lafazh dan maknanya. Maka ia adalah wahyu, baik lafazh maupun maknanya.

Sedangkan al-Hadits al-Qudsi maknanya saja yang dari Allah, sedangkan lafazhnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Hadits al-Qudsi adalah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafazh. Oleh sebab itu, menurut mayoritas ahli Hadits diperbolehkan meriwayatkan al-Hadits al-Qudsi dengan maknanya saja.

Kelima

Membaca al-Qur’an al-Karim merupakan ibadah, karena itu ia dibaca di dalam shalat. Allah ta’ala berfirman:

فاقرءوا ما تيسر من القرآن

Artinya: “Maka bacalah oleh kalian apa yang mudah dari al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 20)

Nilai ibadah membaca al-Qur’an  al-Karim juga terdapat dalam al-hadits:

من قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله حسنة ، والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول (الــم) حرف ، ولكن ألف حرف ، و لام حرف ، و ميم حرف

Artinya: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah ta’ala, baginya satu pahala kebaikan, dan satu pahala kebaikan tersebut akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi dari Ibn Mas’ud, dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih)

Sedangkan al-Hadits al-Qudsi tidak disuruh membacanya di dalam shalat. Allah memberikan pahala membacanya secara umum saja. Maka membaca al-Hadits al-Qudsi tidak akan memperoleh pahala sebagaimana yang disebutkan dalam al-hadits mengenai membaca al-Qur’an bahwa pada setiap huruf terdapat sepuluh kebaikan.

Keenam

Orang yang mengingkari al-Qur’an al-Karim dihukumi kafir, sedangkan yang mengingkari al-Hadits al-Qudsi tidak dihukumi seperti itu karena bisa jadi ia menduga hadits itu dha’if misalnya.

Ketujuh

al-Qur’an al-Karim diturunkan dengan perantaraan Jibril ‘alaihis salam, sedangkan al-Hadits al-Qudsi terkadang melalui perantaraan Jibril, terkadang melalui ilham, dan terkadang dengan cara yang lain.

D. Perbedaan Al-Hadits Al-Qudsi dengan Al-Hadits An-Nabawi

Perbedaan utama al-Hadits al-Qudsi dengan al-Hadits an-Nabawi adalah dari sisi penyandarannya. Al-Hadits al-Qudsi disandarkan kepada Dzat yang Mahasuci, yaitu Allah jalla wa ‘ala, sedangkan al-Hadits an-Nabawi disandarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Persamaan keduanya adalah keduanya sama-sama wahyu yang berasal dari Allah ta’ala, namun penyandarannya berbeda. Keduanya juga sama dari sisi kuat-lemahnya dan jalur periwayatannya. Al-Hadits al-Qudsi dan al-Hadits an-Nabawi sama-sama mungkin berderajat shahih, mungkin juga dhaif. Keduanya pun kebanyakannya sama-sama tidak diriwayatkan secara mutawatir.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Maraji’:

  1. Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, karya Manna’ al-Qaththan
  2. Al-Manar fi ‘Ulumil Qur’an Ma’a Madkhal fi Ushulit Tafsir wa Mashadirihi, karya Muhammad ‘Ali al-Hasan
  3. Ash-Shahih al-Musnad Min al-Ahadits al-Qudsiyyah, karya Mushthafa al-‘Adawi

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén