Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

'Aqidah

Hubungan Antara Iradah (Kehendak) dengan Amr (Perintah) dan Ridha Allah Ta’ala Menurut Asya’irah

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Ada empat hubungan antara iradah (kehendak) Allah ta’ala dengan amr (perintah)-Nya, yaitu:

1. Allah ta’ala memerintahkannya sekaligus menghendakinya. Misalnya: Iman pada orang-orang beriman. Allah memerintahkan mereka untuk beriman kepada-Nya, dan hal itu Dia kehendaki pada mereka, sehingga ia benar-benar terjadi.

2. Allah ta’ala tidak memerintahkannya, sekaligus tidak menghendakinya. Misalnya: Kekafiran pada orang-orang beriman. Allah ta’ala tidak memerintahkan mereka untuk menjadi orang kafir, dan Dia juga tak menghendakinya, dengan bukti hal itu tidak terjadi pada mereka.

3. Allah ta’ala memerintahkannya, namun tidak menghendakinya. Misalnya: Keimanan pada Abu Jahl dan Iblis. Allah ta’ala memerintahkan mereka untuk beriman, namun Dia tak menghendakinya, dengan bukti, ia tidak terwujud.

4. Allah ta’ala tidak memerintahkannya, namun Dia menghendakinya terjadi. Misalnya: Kekufuran pada Abu Jahl dan Iblis. Allah ta’ala tidak pernah memerintahkan mereka untuk menjadi kafir, namun Dia menghendaki hal itu, dengan bukti, ia benar-benar terjadi.

Iradah (kehendak) dan amr (perintah) hanya bertemu pada keimanan orang-orang yang beriman. Allah memerintahkannya, juga menghendakinya. Sedangkan pada keimanan orang-orang kafir, Allah ta’ala memerintahkannya, namun tidak menghendakinya. Sebaliknya, pada kekufuran orang-orang kafir, Allah ta’ala tidak memerintahkannya, namun menghendakinya.

Sedangkan hubungan amr (perintah) dengan ridha Allah ta’ala, adalah hubungan talazum (selalu bersama). Maksudnya, Allah ta’ala tidak akan memerintahkan sesuatu, kecuali Dia ridha dengan sesuatu tersebut.

Jika iradah dihubungkan dengan ridha, sebagai contoh, bisa kita katakan, Allah menghendaki (dalam konteks: iradah) kekafiran Iblis dan Abu Jahl, namun Dia tidak meridhainya.

Rujukan: Syarh Ash-Shawi ‘Ala Jauharatit Tauhid, karya Syaikh Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi Al-Maliki, cet. Dar Ibn Katsir (dalam bentuk pdf), hlm. 174-176.

CATATAN:

1. Kitab Syarh Ash-Shawi ‘Ala Jauharatit Tauhid merupakan kitab Aqidah di kalangan Asya’irah.

2. Iradah (kehendak) Allah ta’ala pasti terjadi, sebagaimana dikatakan oleh para ulama: ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن (Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi, sedangkan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi). Ini misalnya ditunjukkan oleh Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Arba’un An-Nawawiyyah:

وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ

Artinya: “Ketahuilah, seandainya seluruh umat manusia bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat (kebaikan) kecuali yang telah Allah tetapkan (taqdirkan) untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan keburukan atasmu, mereka tidak akan mampu mendatangkan keburukan tersebut, kecuali yang telah Allah tetapkan (taqdirkan) atasmu. Pena (penulisan taqdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau menyatakan Hadits ini hasan shahih).

3. Di kalangan Salafiyyin (Hanabilah fil ‘aqidah), masyhur istilah “Iradah Kauniyyah” dan “Iradah Syar’iyyah”, yang maknanya secara umum tidak berbeda dengan penjelasan di atas.

Iradah kauniyyah istilah lainnya adalah masyiah Allah ta’ala, kehendak Allah ta’ala pada makhluk-makhluk-Nya. Ketaatan dan kemaksiatan, keimanan dan kekufuran, semuanya di atas kehendak Allah ta’ala. Sesuai dengan iradah kauniyyah.

Sedangkan, iradah syar’iyyah adalah kehendak Allah yang Dia ridhai dan cintai.

Jika iradah kauniyyah adalah masyiah Allah ta’ala, maka iradah syar’iyyah adalah mahabbah-Nya.

Sebagai contoh: Kekafiran Abu Jahl, adalah iradah kauniyyah, karena ia benar-benar terwujud. Namun, ia bukan iradah syar’iyyah, karena Allah ta’ala tak meridhai hal tersebut.

4. Istilah “iradah kauniyyah” pada poin 3, ini sesuai dengan istilah “iradah” pada tulisan utama. Sedangkan “iradah syar’iyyah” sesuai dengan istilah amr atau ridha, pada tulisan utama.

5. Dalam perinciannya, tentu ada perbedaan bahasan antara kalangan Asya’irah dengan Salafiyyin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén