Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Ijtihad Dalam Persoalan Fiqhiyyah Far’iyyah

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Persoalan fiqhiyyah far’iyyah (furu’) ada dua macam:

Pertama

Persoalan qath’i yang diketahui secara dharuri (langsung, tanpa perlu pengkajian terlebih dulu) dalam agama. Seperti wajibnya shalat lima waktu, zakat, haji, dan puasa ramadhan, serta haramnya zina, pembunuhan, pencurian, minum khamr dan semisalnya yang diketahui secara pasti (qath’i) dalam diin Allah.

Hukumnya dari sisi benar dan salah dalam ijtihad, serta hukum orang yang keliru dalam ijtihad tersebut, berdosa atau tidak, hukumnya seperti ijtihad dalam perkara-perkara ‘aqliyyah (yang bisa dijangkau langsung oleh akal, walaupun belum ada nash yang menyampaikannya). Yaitu, tidak setiap mujtahid dalam perkara ini benar. Kebenaran hanya satu dalam perkara ini, tidak berbilang, dan ini sudah maklum bagi kita. Yang ijtihadnya tepat, berarti ia benar, sedangkan yang ijtihadnya keliru, berarti ia salah dan berdosa.

Jika khilaf dan pengingkaran terjadi pada perkara yang diketahui secara dharuri dari tujuan pembuat syariat, misalnya pengingkaran terhadap haramnya khamr dan pencurian, serta pengingkaran terhadap wajibnya shalat dan puasa, maka pengingkaran itu adalah kekufuran, dan orang yang mengingkarinya dianggap kafir. Karena pengingkaran dalam hal ini tentu berasal dari orang yang mendustakan syariat.

Adapun jika khilaf dan pengingkaran terjadi pada perkara qath’i yang dihasilkan melalui proses nazhar (pengkajian), bukan dharuri, seperti hukum-hukum yang diketahui melalui ijma’, maka yang mengingkarinya tidak dihukumi kafir, namun ia adalah orang yang salah sekaligus berdosa.

Kedua

Persoalan fiqih yang zhanni, yang tidak dilandasi oleh dalil yang qath’i. Inilah yang menjadi wilayah ijtihad, dan orang yang keliru dalam ijtihad pada persoalan ini tidak dianggap berdosa. Baik menurut ulama yang berpendapat bahwa “setiap mujtahid itu benar”, walaupun menurut ulama yang berpendapat bahwa “yang benar itu hanya satu”.

Catatan:
Ini faidah dari kitab “Ushul Al-Fiqh Al-Islami”, karya Syaikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah, pembahasan tentang “Ijtihad”.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Leave a Reply

Theme by Anders Norén