Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Lingkungan dan Pemikiran Ilmiah

Dr. Hasan Hitu, salah satu ulama senior bermadzhab Syafi’i, pakar ushul fiqih dari Suriah, dalam salah satu daurah ushul fiqih menyatakan (bil ma’na, pen) bahwa Asya’irah (madzhab aqidah yang dibangun oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari, pen) berpendapat khabar ahad tidak bisa menjadi hujjah dalam perkara aqidah.

Beliau pun menjelaskan aqidah yang dimaksud Asya’irah (yang beliau salah satu penganutnya) adalah perkara yang membedakan antara iman dan kufur. Maksudnya, jika ada seseorang yang mengingkari salah satu perkara aqidah, maka ia kafir. Dan pengkafiran harus berlandaskan dalil qath’i, tidak boleh zhanni, sedangkan khabar ahad hanya berfaidah zhanni.

Beliau pun menjelaskan bahwa perkara ini merupakan perkara khilafiyah di kalangan ulama, dan perbedaan Asya’irah dengan yang lain dalam perkara ini bukanlah perbedaan yang sangat mendasar.

***

Jika kita bandingkan pendapat Asya’irah di atas dengan pendapat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kita akan temukan pendapat an-Nabhani dalam perkara ini sama persis dengan pendapat Asya’irah.

Hal ini sebenarnya wajar, jika kita melihat latar belakang keilmuan an-Nabhani. Di awal kehidupannya, beliau banyak dibimbing oleh sang kakek, Yusuf an-Nabhani, yang seorang shufi, asy’ari, syafi’i. Beliau pun tentu banyak terpengaruh dengan pemikiran yang berkembang di lembaga pendidikan yang beliau menimba ilmu di dalamnya, al-Azhar asy-Syarif. Sudah maklum, jami’ah al-Azhar merupakan salah satu institusi terdepan dalam membela dan mempertahankan madzhab Asya’irah.

Walaupun an-Nabhani dalam beberapa tulisannya mengkritik Asya’irah, namun ternyata beliau pun terpengaruh dengan beberapa konsep Asya’irah. Tidak hanya dalam pembahasan khabar ahad dan turunannya, ‘sentuhan’ paham Asya’irah pun secara umum ditemukan dalam kajian ushul fiqih beliau.

Salah seorang ustadz, dalam salah satu kesempatan, pernah menyatakan (aw kama qala, pen) bahwa dalam penulisan ushul fiqihnya, an-Nabhani banyak mengambil faidah dari kitab al-Ihkam fi Ushulil Ahkam karya Al-Amidi. Dan ushul fiqihnya al-Amidi, sebagaimana pendahulunya, banyak dipengaruhi oleh kajian ilmu kalam, terutama dari madzhab ilmu kalam yang dominan saat itu, Asya’irah.

***

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini?

Salah satu hal penting yang bisa kita ambil adalah, tidak ada seorang pun (selain Rasul) yang tidak terpengaruh oleh lingkungannya, tidak ada yang bisa membangun karya pemikiran dari ruang kosong, tak terpengaruh siapa pun.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, yang karyanya telah banyak kita baca, saat menulis kitab-kitabnya tentu terpengaruh dan dipengaruhi lingkungan beliau, baik lingkungan ilmiah maupun sosial-politik.

Maka kita, jika ingin memiliki wawasan yang luas, kaya akan pemikiran yang cemerlang, kajian yang mendalam, mau tidak mau harus mencari lingkungan yang terbaik secara keilmuan. Kita pun tak boleh seperti katak dalam tempurung, yang menutup diri dari berbagai pemikiran dan konsep yang berbeda dengan yang kita pahami sekarang. Bisa jadi, dengan sikap membuka diri, wawasan kita bertambah luas, pandangan kita lebih tajam dan jernih, dan yang terpenting kontribusi kita terhadap Islam -dengan izin, pertolongan dan rahmat Allah- semakin besar.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui social media seperti facebook, twitter dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Abu Furqan Al-Banjary

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Pimpinan Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Leave a Reply

Theme by Anders Norén