Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Lintasan Pikiran

Madrasah Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi akan berakhir. Bahkan bagi pemudik, mungkin Ramadhan sudah berakhir sejak sekarang. Karena bisa jadi mereka sudah tak memikirkan lagi untuk mengoptimalkan Ramadhan, yang mereka pikirkan adalah bagaimana bisa pulang kampung dan menunjukkan kejayaan mereka di tanah orang. Mungkin mereka juga sudah tak puasa lagi, dengan alasan safar. Ramadhan bisa jadi juga telah berakhir bagi orang-orang yang lebih menyibukkan diri dengan persiapan lebaran (lebaran, bukan ‘idul fithri). 10 hari terakhir Ramadhan bagi mereka bukan untuk semakin meningkatkan ibadah, namun untuk berlomba-lomba mempersiapkan makanan dan pakaian untuk lebaran, bahkan untuk menata kembali rumah-rumah mereka agar semakin wah. Bagi mereka, tampil mewah pada saat lebaran lebih penting dari makna Ramadhan itu sendiri.

Pernyataan di atas bukan bermaksud suuzhzhon, sekali lagi bukan. Ini hanya sekedar ‘cubitan’ bagi orang-orang yang telah kehilangan Ramadhan, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan mereka. Apa yang saya sampaikan di atas merupakan fakta, bahkan fenomena yang marak di negeri ini. Padahal hal ini jelas tak sesuai dengan esensi Ramadhan itu sendiri.

Kembali ke tema awal. Faktanya, Ramadhan memang sebentar lagi akan berakhir, tinggal beberapa hari lagi. Bagi kita yang memahami makna Ramadhan, wajib introspeksi akan hal ini. Apakah kita telah berhasil mencapai tujuan Ramadhan atau belum. Apa tujuan puasa Ramadhan? Mari kita baca kembali surah Al-Baqarah ayat 183. La’allakum tattaquun, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Taqwa, itulah tujuan puasa Ramadhan kita.

Taqwa, dalam terminologi Islam, berarti sikap memelihara diri dari perbuatan dosa. Karakter orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mawas diri dan berupaya menghindarkan diri dari segala hal yang bisa membawa kepada perbuatan dosa. Dengan ungkapan yang lebih sederhana, taqwa biasanya diartikan “menjalankan segala perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi seluruh larangan-Nya”.

Bulan Ramadhan merupakan madrasah bagi kita, umat Islam, untuk mencapai ketaqwaan. Walaupun kita tak bisa mengukur secara persis seberapa taqwa diri kita atau orang lain, karena hanya Allah yang tahu akan hal itu, namun ada indikator sebagai acuan seseorang telah bertaqwa atau tidak. Indikator ini yang akan menunjukkan apakah seseorang berhasil lulus madrasah Ramadhan dengan cumlaude, atau malah DO.

Beberapa indikator orang yang lulus madrasah Ramadhan:

1. Menjadikan Islam sebagai standar hidup. Orang yang bertaqwa adalah orang yang menjadikan Islam sebagai standar hidup dan tolok ukur perbuatannya. Bukan orang yang bertaqwa, orang yang kelihatan khusyu’ ketika shalat di masjid, panjang wiridnya, namun dalam aktivitas muamalahnya masih terlibat riba, bunga bank misalnya. Tidak bisa dikatakan bertaqwa, orang yang mampu mengkhatamkan al-Qur’an dengan tartil seminggu sekali, namun masih terlibat dalam pembuatan dan penerapan hukum-hukum buatan manusia yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Hanya orang yang menjadikan Islam sebagai standar hidup dan standar seluruh aktivitasnya lah yang layak disebut sebagai orang yang bertaqwa.

2. Selalu mengkaji dan mendalami tsaqafah Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka mengkaji tsaqafah Islam untuk diamalkan, bukan hanya sekedar memenuhi hasrat dan kepuasan intelektual. Orang yang bertaqwa adalah orang yang menstandarkan seluruh aktivitasnya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan ini tentu tidak mungkin bisa dilakukan jika dia tak memahami berbagai tsaqafah Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah tersebut.

3. Selalu mawas diri dan berupaya menghindari berbagai hal yang syubhat karena khawatir terjatuh pada keharaman. Orang yang bertaqwa adalah orang yang sangat berhati-hati dalam seluruh aktivitasnya. Ia tak akan melakukan sesuatu sebelum jelas sesuatu tersebut merupakan hal yang dibolehkan oleh Islam. Ia juga akan berupaya mempersedikit aktivitas mubah, karena yang wajib dan sunnah sudah menyibukkannya. Jika mubah saja dipersedikit, apalagi yang makruh dan haram.

Semoga Ramadhan kali ini memberikan atsar baik bagi kita, sehingga kita layak menyandang gelar muttaqin sebagai tujuan puasa Ramadhan. Mari sama-sama memperbaiki diri.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui social media seperti facebook, twitter dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Abu Furqan Al-Banjary

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Pimpinan Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Leave a Reply

Theme by Anders Norén