Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Mari Kita Berzina Lagi! Ramadhan Sebentar Lagi Pergi…

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjari

Jika Anda marah membaca judul tulisan diatas, berarti Anda masih waras. Kewarasan yang sekarang sudah tidak banyak lagi dimiliki oleh bangsa ini. Kalau Anda masih menganggap pernyataan saya ini aneh, Anda perlu menonton film karya Deddy Mizwar, Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film satir yang menunjukkan sedikit ketidakwarasan bangsa ini. Dan, kalau diuraikan, banyak lagi ketidakwarasan bangsa ini yang tak terungkap di film tersebut. Salah satu ketidakwarasan tersebut akan coba saya uraikan di tulisan ini.

Bila Anda sering melihat acara-acara televisi di bulan Ramadhan ini, Anda akan melihat fenomena aneh bangsa ini, fenomena taat musiman. Walaupun kata “taat” mungkin kurang tepat, namun paling tidak sedikit menggambarkan kenyataan yang terjadi. Lihat saja, cukup banyak iklan khusus Ramadhan yang menampilkan wanita berkerudung, begitu juga sinetron dan acara-acara khas Ramadhan lain. Ini menjadi fenomena tersendiri, karena wujud “wanita berkerudung” tersebut cukup asing hadir di televisi kita di luar bulan Ramadhan. Dan, berdasarkan pengamatan pada Ramadhan-Ramadhan yang lalu, fenomena “wanita berkerudung” ini akan kembali menghilang dari televisi kita pasca Ramadhan.

Faktanya, televisi kita hanya merefleksikan fenomena “taat musiman” yang jamak terjadi di masyarakat. Misalnya saja, bagaimana ketika Ramadhan, khususnya shalat Isya, jamaah shalat di masjid membludak, namun di luar Ramadhan, kadang satu shaf pun tak penuh. Tadarrus al-Qur’an di bulan Ramadhan digiatkan, di luar Ramadhan, al-Qur’an terpajang di lemari sampai berdebu karena tak tersentuh tangan manusia. Bahkan, bagi pegiat pacaran, Ramadhan merupakan bulan “menahan diri”, sehingga kunjungan ke pacar dikurangi intensitasnya, agar kesucian Ramadhan tetap terjaga (?).

Inilah negeri kita! Inilah bangsa kita! Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah fenomena ini akan terus terjadi di tahun-tahun mendatang? Menjawab hal ini, kita perlu melihat fenomena ini secara utuh, tidak parsial. Kalau kita tilik sejarah, fenomena aneh ini merupakan hasil logis dari berdirinya negara yang menjadikan sekularisme (pemisahan agama dengan kehidupan) sebagai asas dari semua sub sistem yang berlaku di negara tersebut. Sejak awal berdirinya, Indonesia sudah meninggalkan Islam, dengan beribu alasan yang sebenarnya tak logis (silakan baca: Soekarno-Hatta, Founding Fathers Sekularisme Indonesia). Dan, walaupun tak sesuai dengan falsafah bangsa Indonesia yang murni (pra kolonialisme), akhirnya pemikiran sekuler menjadi pemikiran mayoritas bangsa ini, dengan pemaksaan melalui jalur pendidikan, sosial-budaya dan politik. Salah satu hasilnya adalah fenomena “taat musiman” ini.

Mungkin ada yang menyatakan bahwa negeri ini tak 100 % sekuler. Menjawabnya mudah saja, 1 % pun sekuler, berarti negeri ini tak menerapkan syariah Islam 100 % (jika Islam vis a vis dengan sekularisme). Dan jika tak 100 % sesuai dengan syariah Islam, berarti menurut pandangan Islam, umat Islam di negeri ini telah menyimpang (silakan baca surah al-Baqarah ayat 208-209 beserta tafsirnya dari kitab-kitab tafsir mu’tabar). Dan, berdasarkan definisi sekularisme -yaitu pemisahan agama dengan kehidupan-, negeri ini tetap layak disebut menerapkan sistem sekuler. Dan fakta mengatakan, lebih dari 50% syariah Islam tak diterapkan oleh penguasa negeri ini. Inilah akar masalahnya, sistem sekuler dan masyarakat yang berpikiran sekuler.

Bagi masyarakat sekuler, Ramadhan tetaplah sebuah hajatan besar keagamaan yang perlu untuk mereka perhatikan. Hanya segelintir orang yang benar-benar tak peduli dengan Ramadhan. Namun, kepedulian mereka terhadap Ramadhan, tidaklah sesuai dengan keinginan Islam sendiri dengan adanya puasa Ramadhan (silakan baca surah al-Baqarah ayat 183 beserta tafsirnya). Bagi mereka, Ramadhan adalah waktu untuk sedikit dekat dengan Islam. Bagi yang tak terbiasa berkerudung, saatnya berkerudung. Bagi yang dulu shalatnya bolong-bolong, di bulan Ramadhan lebih rajin shalatnya. Bagi yang pacaran, saatnya direm sementara di bulan Ramadhan. Termasuk bagi televisi, saatnya menampilkan sebagian “acara Islami” (saya beri tanda petik, karena kebanyakan acara yang disebut Islami di televisi tak benar-benar Islami) di bulan Ramadhan. Selesai Ramadhan, mari kita kembali ke “kehidupan asli” kita. Mari kita lepaskan kerudung, tinggalkan shalat, giatkan pacaran dan tampilkan acara-acara syahwati lagi di televisi kita.

Inilah Ramadhan di Indonesia! Bahkan sebagian PSK (singkatan dari Pekerja Seks Komersial, frase yang bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat para pelacur, yang sebenarnya begitu hina), dari pemberitaan di media, meliburkan diri di bulan Ramadhan. Maka, logis jika kalimat “Mari Kita Berzina Lagi! Ramadhan Sebentar Lagi Pergi…”, saya jadikan sebagai judul tulisan ini. Tentu bukan untuk mengajak Anda melakukan perbuatan zina, namun hanya untuk menunjukkan ironi yang terjadi di negeri ini. Inilah Ramadhan di negeri yang bernama Indonesia, negeri yang begitu banyak dilimpahi karunia oleh Allah subhanahu wa ta’ala, namun penduduknya durhaka dengan meninggalkan Islam sebagai aturan kehidupan…

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén