Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Mengapa Radikalisme Tumbuh Subur di Indonesia?

Dalam sebuah tulisan di Catatan Akhir Pekan (CAP) Hidayatullah.com berjudul “’Radikalisme’ dan ‘Terorisme’, Adian Husaini mencoba mempertanyakan definisi “radikalisme” sebagai sebuah istilah. Menurut beliau, hal tersebut sangat penting, karena jika suatu istilah tidak memiliki definisi yang jelas, tentu akan menjadi rancu dan sangat memungkinkan multi tafsir dan disalah gunakan. Pertanyaan menarik, apalagi ketika istilah radikalisme kembali menyeruak, terutama setelah adanya Simposium Nasional bertajuk “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme”, yang menghadirkan banyak pemateri dari berbagai kalangan, Juli lalu.

Beberapa poin rekomendasi dari simposium nasional tersebut menyebutkan kata “radikalisme” secara langsung. Misalnya poin: “Dukungan kepada Kementerian Pendidikan Nasional agar menjauhkan lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi dari kemungkinan sebagai tempat persemaian radikalisme.” Kemudian poin: “Pemerintah, media-massa maupun tokoh masyarakat seyogyanya menghindari sikap dan tindakan yang bernada “memaklumi” atau “memaafkan” radikalisme apalagi terorisme, karena melalui hal seperti itulah terorisme bertahan dan berkembang. Khususnya MUI, perlu membuat dan mensosialisasikan fatwa-fatwa yang tidak mendukung radikalisme dan terorisme “ Dan poin: “Mendorong studi-studi radikalisme dan terorisme inter-disiplin yang akademis guna mendukung pembuatan kebijakan dan langkah operasional BNPT dan instansi terkait lainnya.”

Bahkan dari keseluruhan 10 poin rekomendasi simposium nasional, istilah radikal, radikalisasi dan radikalisme menjadi primadona dan disandingkan dengan istilah terorisme. Menarik jika kita coba hubungkan pertanyaan dari Adian Husaini dengan hasil rekomendasi dari simposium nasional tersebut. Sebelumnya, menjadi catatan penting juga, istilah radikalisme (dan terorisme) yang menjadi tajuk simposium nasional yang diadakan oleh LSM Lazuardi Birru bekerjasama dengan beberapa instansi tersebut sangat jelas menunjuk pada Islam. Ini misalnya terlihat pada poin yang menghubung-hubungkan radikalisme dan terorisme dengan MUI yang notabene merupakan lembaga keislaman.

Mengutip Adian Husaini, beliau menyatakan bahwa John L. Esposito (yang juga beliau kutip dari buku “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia” hasil penelitian PPIM UIN Jakarta) memaparkan ciri-ciri ideologi dari Islam radikal adalah: (1) mereka berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat ; (2) mereka seringkali menganggap bahwa ideologi masyarakat Barat yang sekular dan cenderung materislistis harus ditolak ; (3) mereka cenderung mengajak pengikutnya untuk ‘kembali kepada Islam’ sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial ; (4) karena ideologi masyarakat Barat harus ditolak, maka secara otomatis peraturan-peraturan sosial yang lahir dari tradisi Barat, juga harus ditolak ; (5) mereka tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan tidak merusak sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final ; (6) mereka berkeyakinan, bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat Muslim tidak akan berhasil tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun pembentukan sebuah kelompok yang kuat.

Jika kita baca secara seksama hasil kajian John L. Esposito tersebut, maka akan sangat jelaslah yang mereka maksud dengan radikal adalah setiap orang atau kelompok yang menginginkan diterapkannya kembali Islam sebagai ideologi. Ini juga berarti bahwa setiap orang yang ingin mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah secara keseluruhan berarti radikal, karena ajaran Islam dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sangat jelas menunjukkan bahwa Islam memang merupakan sebuah ideologi (dalam bahasa Arab: mabda). Jadi siapa yang mereka tunjuk sebagai radikal dan pengusung radikalisme sudah sangat jelas.

Dalam simposium nasional yang saya sebutkan di atas, hasil rekomendasi mencoba menghubungkan radikalisme (dengan makna yang senada dengan uraian John L. Esposito) dengan terorisme. Pada kelompok-kelompok yang dituduh (padahal buktinya tidak kuat) melakukan aksi kekerasan atas nama Islam, baik pengeboman maupun bentuk kekerasan dan teror lainnya, hubungan radikalisme dan terorisme sangat jelas kelihatan. Bahkan, bagi kelompok yang menyatakan bergerak “tanpa kekerasan” pun, tak luput mendapat cap yang sama. Mereka yang tak memiliki image kekerasan, jika masih memegang ideologi Islam radikal (menurut John L. Esposito), akan dianggap menginspirasi kekerasan. Misal: seruan jihad melawan Israel, dianggap memprovokasi umat Islam melakukan aksi teror.

Hasil rekomendasi dari simposium nasional sudah bergulir dan tentu kita akan merasakan dampaknya. Namun, sebagai “wacana berbeda”, tulisan ini tentu tidak bisa dengan mudah dituduh “menginspirasi terorisme”. Tulisan ini lebih kepada sumbang saran bagi semua elemen umat Islam maupun bangsa Indonesia (pemerintah, militer, parpol, LSM, dan masyarakat secara umum) untuk menilai dan melihat sesuatu secara lebih proporsional. Misal saja, dibanding melakukan upaya deradikalisasi Islam (dengan pengertian deideologisasi Islam atau lebih jelas deislamisasi) yang pada faktanya tidak mungkin bisa dilakukan (karena Islam ideologi merupakan tuntutan keimanan seseorang sebagai muslim), lebih baik mencoba urun rembuk dengan berbagai pihak untuk mengatasi masalah-masalah riil di lapangan, seperti korupsi, kerusakan moral, pencurian SDA oleh segelintir orang, dan hal-hal riil lainnya. Semoga menjadi bahan diskusi.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén