Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Menghindarkan Diri dari Fanatisme Buta

Meluaskan kajian dan memperkokoh landasan, dua hal yang bisa menghindarkan diri kita dari fanatisme buta terhadap tokoh atau ‘aliran’ tertentu.

Bagaimana rincian penjelasannya?

Dalam ajaran Islam, ada yang kita kenal dengan istilah al-ma’lum minad diin bidh-dharurah, perkara yang saking jelasnya, tidak mungkin terdapat ikhtilaf di dalamnya. Demikian juga ada perkara yg umat Islam ijma’ padanya, sejak generasi shahabat hingga sekarang. Pada perkara-perkara ini, tidak diterima adanya perbedaan pendapat.

Ada juga perkara-perkara yang mukhtalaf fiih, ulama berbeda pendapat dalam memahaminya. Perkara inilah yang banyak ditemukan dalam pembahasan fiqih. Perkara yang menjadi wilayah pembahasan para mujtahid, perkara ijtihadi. Kadang dengan dalil yang sama, fuqaha tetap berbeda pendapat, karena perbedaan dalam menginterpretasikan dalil tersebut.

Sebagian orang, karena sempitnya kajian mereka, memegang satu pendapat dan menganggap bahwa pendapat tersebutlah satu-satunya yang haq, selainnya berarti batil dan menyimpang. Mereka tak tahu fuqaha, para ahli ilmu, ternyata tak satu suara dalam perkara tersebut.

Karena sempitnya kajian dan pemahaman mereka, lahirlah fanatisme buta, terlebih jika pendapat yang dia pegang tersebut adalah pendapat syaikh-nya, pendapat komunitasnya, atau pendapat kelompoknya.

Tadi dari sisi memperluas kajian. Adapun dari sisi memperkokoh landasan, kita perlu perjelas landasan memahami ajaran Islam.

Landasan primer ajaran Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Seluruh umat Islam yang lurus pemahamannya sepakat akan hal ini. Jika kita ingin mengecek haq-batilnya suatu pemahaman, atau benar-salahnya suatu pendapat, kita harus mengujinya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kesalahan fatal orang-orang yang terjebak fanatisme buta adalah menjadikan tolok ukur kebenaran pada pemahaman/pendapat tokoh panutan dan/atau kelompoknya. Yang sesuai dengan pendapat tokoh atau kelompoknya, ialah yang haq, dan yang bertentangan berarti batil dan keluar dari manhaj yang lurus.

Tolok ukur yang keliru ini diperparah dengan keengganan mereka mempelajari secara mendalam sumber primer Islam, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih berminat mempelajari karya dan fatwa tokohnya secara doktrinal, untuk diterima bulat-bulat, tanpa sikap kritis sedikitpun. Ujungnya, lahirlah fanatisme buta yang akut. Saking akutnya, mereka sampai tak menyadari dan tak mau mengaku bahwa mereka sedang ditimpa penyakit ‘fanatisme buta’.

Untuk menghindari penyakit ini, satu-satunya cara adalah kembali ke al-Qur’an dan as-Sunnah. Mempelajari kandungan dan seluk-beluknya secara mendalam. Menimbang berbagai pendapat ulama dalam memahami keduanya, jika mereka berbeda pendapat dalam sebagian pembahasannya.

Wajib bagi kita menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai timbangan atas semua pendapat, termasuk pendapat yang kita pegang teguh saat ini. Al-Qur’an dan as-Sunnah harus diletakkan di atas semua pendapat, sehingga jika sebagian pendapat yang kita pegang ternyata keliru, atau bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, kita bisa segera rujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dan meninggalkan pendapat lama kita.

Meluaskan kajian dan memperkokoh landasan, solusi menghindari fanatisme buta. Sederhana kelihatannya, namun berat mengupayakannya.

Semoga Allah ta’ala memberikan kita petunjuk ke jalan yang lurus, yaitu jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin, dan menjauhkan kita dari jalannya Yahudi yg dimurkai Allah serta jalannya Nashrani yg tersesat.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui social media seperti facebook, twitter dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Abu Furqan Al-Banjary

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Pimpinan Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Leave a Reply

Theme by Anders Norén