Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Perlukah Ijtihad Di Masa Sekarang?

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Saat membantah sebagian orang yang menyatakan tidak perlunya ijtihad di masa sekarang, dan mewajibkan umat untuk mengikuti kitab-kitab ulama terdahulu sepenuhnya, serta mengklaim kitab-kitab tersebut sudah mencukupi untuk kebutuhan saat ini, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, dalam kitab beliau Al-Ijtihad fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah, menyatakan:

“Klaim bahwa kitab-kitab klasik mengandung jawaban atas semua persoalan baru, merupakan sikap berlebih-lebihan dan pengabaian terhadap realita.

Setiap masa memiliki masalah-masalahnya sendiri, realitanya sendiri, dan kebutuhan-kebutuhannya yang baru. Bumi terus berputar, langit terus bergerak, alam terus berjalan, dan jarum jam tak pernah berhenti.

Dengan perputaran dan pergerakan waktu yang terus-menerus dan berjalan cepat ini, rahim siang dan malam senantiasa mengeluarkan berbagai peristiwa dan realita yang baru, yang tidak dikenal oleh orang-orang terdahulu. Bisa jadi belum terlintas di benak mereka, bahkan bisa jadi, seandainya hal itu disebutkan di hadapan mereka, mereka akan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil. Maka bagaimana bisa tergambar hukum hal tersebut pada mereka, sedangkan ia belum ada saat mereka hidup di suatu zaman?”

Saat membantah pendapat para ulama (di antaranya Ar-Razi, Al-Ghazali, dan Al-Qaffal) yang membolehkan ketiadaan mujtahid di suatu masa, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di kitab Ushul Al-Fiqh Al-Islami, menyampaikan:

“Dan yang tampak, orang-orang ini tidak memiliki hujjah atas pendapatnya, kecuali sikap ghuluw (berlebih-lebihan) mereka dalam membatasi level ijtihad, membatasi diri pada imam-imam terdahulu, dan mewajibkan taqlid kepada mereka. Padahal sarana untuk berijtihad orang-orang setelah mereka lebih banyak dari mereka. Demikian juga, keutamaan ilmu dan pemahaman yang diberikan Allah tidak terbatas pada zaman tertentu saja.”

*

Al-Qaradhawi dan Az-Zuhaili adalah dua ulama kontemporer yang menyatakan bahwa pintu ijtihad tak tertutup, dan harus ada mujtahid di setiap masa. Pendapat ini adalah pendapat yang layak diikuti, terlebih banyak persoalan baru yang belum pernah dibahas oleh ulama terdahulu, dan itu perlu ijtihad. Begitu juga beberapa persoalan lama, namun belum tuntas dibahas, dan perlu ijtihad di zaman ini, untuk menuntaskannya.

Namun perlu dicatat, ijtihad ini wilayahnya ulama yang sudah sangat kokoh ilmunya, bukan wilayah thalibul ‘ilm (yang mengerti nahwu, ushul fiqih, ushul tafsir, ushul hadits, dll) yang masih setengah matang apalagi mentah, dan sangat jelas bukan wilayah kalangan awam yang tak punya bagian apa-apa dalam ilmu syar’i.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Leave a Reply

Theme by Anders Norén