Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fikrah

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani di Mata Saya

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Dulu sekali, ada yang meng-“inbox” ke saya, menanyakan apakah ilmu Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah itu selevel dengan imam empat madzhab. Saat ditanya begitu, saya tidak terkejut sama sekali, karena entah dimulai oleh siapa, memang hal itu seperti diyakini oleh sebagian pengikut beliau. Saya jawab saja, tidak. Level beliau sama saja dengan ulama kontemporer lainnya, tidak setara dengan ulama klasik yang besar-besar, apalagi ulama empat madzhab.

Ini setahu saya adalah penilaian yang paling adil. Tidak merendahkan beliau, dengan menyatakan beliau bukan ulama. Juga tidak meletakkan pada posisi yang terlalu tinggi, sampai disetarakan dengan imam empat madzhab.

Dan prinsip Ahlus Sunnah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik, bahwa setiap perkataan manusia bisa diambil, bisa ditolak, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga, tidak seorang ulama pun (sehebat apapun ulama tersebut) yang bisa menguasai As-Sunnah sepenuhnya, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Asy-Syafi’i, Syaikh Ibnu Taimiyyah, dan lainnya.

Karena itu, mengkritik pendapat ulama, baik ulama klasik, terlebih ulama kontemporer, bukanlah hal yang tercela, atau dianggap tidak punya adab, atau dianggap tidak tahu diri. Apalagi jika poin kritikan itu adalah perbandingan pendapat sang ulama dengan pendapat mayoritas ulama. Bagaimanapun, pendapat jumhur (mayoritas) ulama secara umum lebih kuat. Apalagi bagi seorang muqallid yang tak bisa menimbang dalil dan beristidlal, maka ikut kebanyakan ulama jauh lebih selamat.

Karena itu, tidak menerima pendapat An-Nabhani tentang bolehnya bersentuhan tangan (tanpa pembatas) antara laki-laki dan perempuan non-mahram, dan mengkritiknya, bukanlah hal tercela. Apalagi keharaman hal itu merupakan pendapat jumhur. Bahkan di Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebut sebagai ittifaq ‘ulama (kesepakatan ulama). Bahkan Dr. Hisamuddin ‘Afanah, membuat buku khusus yang membahas kelemahan pendapat yang membolehkan bersentuhan tangan atau kulit ini, dengan judul “Al-Adillah Asy-Syar’iyyah ‘Ala Tahrim Mushafahah Al-Mar’ah Al-Ajnabiyyah”.

Atau pendapat An-Nabhani tentang bahasan al-qadha dan al-qadar, yang berbeda dengan Asy’ariyyah (yang merupakan basis awal keilmuan beliau), juga beda dengan kalangan Salafiyyin. Dua aliran pemikiran dalam aqidah yang paling banyak diterima umat Islam saat ini, bahkan dari dulu.

Atau penolakan An-Nabhani terhadap kaidah fiqih Al-‘Adatu muhakkamah. Padahal kaidah ini diterima oleh seluruh ulama fiqih empat madzhab di era mutaakhkhirin, era saat pembahasan qawa’id fiqhiyyah mencapai kematangannya. Hal ini bisa dilihat di kitab Al-Asybah wan Nazhair Imam As-Suyuthi. Atau kitab kontemporer karya Dr. Muhammad Az-Zuhaili, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha Fi Al-Madzahib Al-Arba’ah.

Atau pewajiban ikut harakah tertentu, yang entah ini pendapat An-Nabhani pribadi, atau pendapat pengikut beliau yang kemudian diterima oleh mereka secara meluas. Ini juga tidak diterima oleh mayoritas ulama, baik klasik maupun kontemporer. Baik, secara mendasar kewajiban ikut kelompok tertentu secara umum, apalagi ikut kelompok yang sudah ditentukan namanya.

Dan lain-lain.

Ketika hal ini tidak diterima oleh seseorang, kemudian ia mengkritik argumen para pendukungnya, maka itu hal yang wajar saja. Kalau si pendukung sedang berusaha menjadi penyambung lidah dari An-Nabhani. Maka, yang mengkritik sedang menjadi penyampai pendapat para ulama lainnya yang jumlahnya lebih banyak.

Terakhir, saya pribadi, tidak terlalu sering membahas hal ini, karena bukan sesuatu yang urgen untuk dibahas. Bagi saya, setiap orang berpikir secara adil dan waras dalam setiap persoalan, itu sudah cukup. Hanya saja, saya sangat menyayangkan ada orang-orang yang suka bernarasi sendiri, membuat tuduhan yang bukan-bukan pada pengkritik pendapat An-Nabhani. Hal yang benar-benar sangat menunjukkan yang bersangkutan, tak ingin pendapat kelompoknya dikritik atau dianggap salah. Ini benar-benar fenomena yang menyedihkan.

Semoga Allah merahmati Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani. Beliau ulama, sekaligus manusia biasa yang bisa benar, bisa salah. Pendapatnya boleh diikuti, boleh ditinggalkan, boleh pula dikritik. Namun kebaikan beliau terhadap umat Islam, semoga Allah balas dengan sebaik-baiknya.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén