Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Syarat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:

1. Orang yang melakukannya memiliki ilmu (berilmu) terhadap apa yang ia perintahkan dan ia larang. Orang yang jahil terhadap hukum tentangnya, tidak halal melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadapnya. Orang yang awam, yang jahil terhadap suatu perkara, tidak diperintahkan untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap perkara tersebut.

Adapun perkara yang diketahui oleh orang khusus (alim) dan umum, maka baik orang alim maupun selainnya, diperintahkan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

2. Pelarangan terhadap kemungkaran tidak boleh melahirkan kemungkaran baru yang lebih besar. Misal melarang orang minum khamr, malah menyebabkan terjadinya pembunuhan. Pada kondisi ini, nahi munkar terlarang.

Jika dua syarat di atas tidak terpenuhi, maka amar ma’ruf dan nahi munkar haram hukumnya.

3. Ia memiliki dugaan kuat (ghalabatuzh zhann) bahwa perintahnya terhadap yang ma’ruf berpengaruh terhadap terwujudnya kema’rufan tersebut, dan larangannya terhadap yang munkar memang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut.

Jika syarat ketiga ini tidak terpenuhi, gugurlah kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Jika dipastikan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa, hukum melakukannya jaiz (mubah) saja. Sedangkan jika ia ragu (syakk/fifty-fifty), maka hukum amar ma’ruf nahi munkar ini mandub (sunnah) hukumnya. Ini adalah pendapat Al-Qarafi dan lainnya.

Sedangkan menurut Sa’ad dan Al-Amidi, hukumnya tetap wajib jika ia menduga (zhann) atau ragu (syakk) aktivitas amar ma’ruf nahi munkar tersebut tidak akan berhasil. Sedangkan jika dipastikan aktivitas tersebut memang tidak akan berhasil, maka hukumnya menjadi tidak wajib lagi.

(Diterjemahkan secara bebas dari kitab “Tuhfatul Murid ‘ala Jawharatit Tawhid”, karya Syaikhul Islam Ibrahim bin Muhammad Al-Baijuri Asy-Syafi’i, terbitan Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah, hlm. 258.)

CATATAN:

Untuk memahami makna istilah qath’i (pasti), ghalabatuzh zhann, zhann, syakk, wahm, dan jahl, silakan merujuk ke kitab-kitab Tauhid dan Ushul Fiqih.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui social media seperti facebook, twitter dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Abu Furqan Al-Banjary

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Pimpinan Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjary

Leave a Reply

Theme by Anders Norén