Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Fawaid Fiqhiyyah

Tidak Bermudah-Mudahan Mengatakan, “Ini Halal”, Atau, “Ini Haram”

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Para ulama salaf ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in, dulu sangat berhati-hati dalam menyatakan hukum secara tegas pada perkara-perkara yang tak terdapat nash yang sharih padanya. Mereka tak banyak menyatakan “ini halal” atau “ini haram”, dan mereka hanya menggunakan ungkapan-ungkapan yang lebih ringan, tanpa menegaskan wajib atau haram.

Al-A’masy berkata: Saya tak pernah mendengar Ibrahim berkata “halal” atau “haram”. Ia hanya berkata, “Mereka tak menyukainya, dan mereka menyukainya”.

Imam Ahmad bertawaqquf dalam banyak persoalan, dan jika beliau menjawab, sebisa mungkin beliau tak menjawab dengan jawaban tegas.

Imam Malik berkata: Bukan sesuatu yang digunakan para ulama, juga tidak digunakan para salaf pendahulu kita, dan saya tidak mendapatkan ada seseorang yang diikuti pendapatnya, berkata tentang sesuatu, “ini halal”, dan “ini haram”. Mereka sangat berhati-hati dalam hal ini. Mereka hanya mengatakan, “Kami membenci ini”, “Kami memandang ini baik”, “Kami berhati-hati terhadap ini”, “Kami tidak memandang ini”, dan mereka tidak berkata “halal” atau “haram”.

Namun, pada sebagian keadaan, tetap perlu memberi jawaban atau pernyataan yang tegas, misal pada:

1. Perkara yang ditetapkan oleh dalil yang shahih lagi sharih, dan tidak ada indikasi apapun yang mengalihkan hukumnya. Atau hukumnya ditetapkan oleh ijma’ yang dinukil secara shahih.

2. Jika ada keperluan yang mendesak untuk memberikan jawaban yang tegas. Misal jika ada orang yang menunggu fatwa tentang sesuatu, jika boleh, ia akan mengerjakannya, jika haram, akan ia tinggalkan. Sedangkan mufti atau peneliti, setelah melakukan penelitian yang cukup mendalam menemukan bahwa hukum sesuatu itu memang boleh. Maka, pada kondisi ini, ia perlu menyebutkan kata “mubah” secara tegas, terlebih jika yang bertanya adalah orang yang bertaqwa dan wara’, yang hanya melakukan sesuatu setelah tahu hukumnya secara jelas.

Wallahu a’lam bish shawab.

Bacaan:
Shina’atul Faqih, karya Ra’fat Farid Suwailim, Terbitan Dar Al-Bayan, Hlm. 252-253.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

Leave a Reply

Theme by Anders Norén