Blog Abu Furqan

Meniti Jalan Para Ulama

Tafsir Al-Qur'an

Ummatan Wasathan

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Mari kita perhatikan firman Allah ta’ala berikut ini:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Artinya: “Dan demikian pula kami telah menjadikan kalian (umat Islam) ummatan wasathan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Apakah yang dimaksud ‘ummatan wasathan’ di ayat ini? Paling tidak ada dua pendapat tentang makna ‘ummatan wasathan’ yang dikemukakan oleh ahli tafsir.

Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa ‘ummatan wasathan’ maksudnya adalah umat yang terbaik. Sebagaimana suku Quraisy dianggap ‘awsathul ‘arab’, yang terbaik di antara bangsa Arab, baik nasab maupun negerinya. Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dianggap ‘wasath’ di kaumnya, yaitu yang paling mulia nasabnya. Sebagaimana juga shalat ashar dianggap sebagai ‘shalat wustha’, yaitu shalat yang paling utama.

Allah menjadikan umat ini sebagai umat terbaik, dengan mengkhususkan untuk umat ini syariat yang paling sempurna, manhaj yang paling kokoh, dan madzhab yang paling jelas.

Sedangkan Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan bahwa makna ‘wasathan’ adalah bagian yang berada di antara dua sisi. Dan Allah menyifati umat ini sebagai ‘ummatan wasathan’ karena sikap pertengahan mereka dalam agama.

Mereka bukanlah ‘ahlu ghuluw’, kelompok yang melampaui batas, sebagaimana ghuluw-nya orang-orang nashara dalam kerahiban dan melampaui batasnya mereka dalam berbicara tentang ‘Isa ‘alaihis salam.

Umat ini juga bukan ‘ahlu taqshir’, kelompok yang suka mereduksi (mengurangi dan menghilangkan) ajaran agama, sebagaimana orang-orang Yahudi yang mengubah kitab Allah, membunuh Nabi-nabi mereka, serta kafir dan mendustakan Tuhan mereka.

Umat ini adalah umat yang tawassuth dan i’tidal, bersikap pertengahan. Dan Allah menyifati mereka dengan ini, karena perkara yang paling dicintai oleh Allah adalah pertengahannya.

Makna yang dikemukakan dua ahli tafsir ternama di atas tentang makna ‘ummatan wasathan’ di ayat ini memang berbeda. Perbedaan mereka salah satunya dilandasi oleh perbedaan memahami makna ‘wasathan’. Namun, sebagai pelajaran, kita bisa terima penjelasan dua ahli tafsir di atas, tanpa harus meninggalkan salah satunya.

Jika kita kumpulkan dua penjelasan di atas, kita bisa simpulkan umat Islam adalah umat yang terbaik, karena mereka memiliki syariat yang paling sempurna dan manhaj yang paling kokoh. Dan salah satu sifat yang menonjol pada umat terbaik ini adalah sifat pertengahan, tidak bersikap ghuluw, bukan juga ahlu taqshir. Umat Islam bukanlah umat yang bersikap ghuluw atau ekstrim dalam beragama. Mereka adalah umat yang bersikap tawassuth dan i’tidal, sebagaimana telah dicontohkan dengan sangat baik oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jika Anda menyukai tulisan ini, silakan bagikan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lainnya. Anda juga boleh menyalin isi tulisan ini ke website atau blog pribadi, tanpa perlu izin khusus, selama tetap mencantumkan nama penulis aslinya dan alamat blog ini.

Mohon doakan juga kebaikan bagi penulis dan keluarga di dunia dan akhirat, serta ditambahkan ilmu, dilapangkan rezeki dan dimudahkan seluruh urusannya.

Tentang Kami: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/

Disclaimer: http://www.abufurqan.net/disclaimer/

Abu Furqan Al-Banjari

Abu Furqan Al-Banjari

Dikenal juga dengan nama "Muhammad Abduh Negara". Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin & Direktur Madrasah Fiqih Banjarmasin. Profil lengkap bisa baca di: http://www.abufurqan.net/tentang-kami/
Abu Furqan Al-Banjari

1 Comment

  1. Tulisan yg bagus akhi..
    Ana mau ajak antum bersatu dlm wadah khilafahatul muslimin
    Khilafah ala minhaj nubuwwah
    Kunjungi http://www.khilafatulmuslimin.com

    Bukankah berjamaah itu wajib.
    dan jamaah yg soheh dan ada contoh cm khilafah.

    Mari seluruh umat Islam sedunia dmn pun anda berada, marii bersatu dlm khilafah ini hanya utk mengharap ridho Alloh subhanuhuwataala.

    LIMA WASIAT RASULULLAH Sallallahu ‘alaihi wasallam :
    JAMA’AH, MENDENGAR, TAAT, HIJRAH DAN JIHAD DI JALAN ALLAH.
    Mereka Menyangka Bahwa Hadits Ini Untuk Jama’ah Mereka Padahal Hakikatnya Sebaliknya Menusuk Mereka Dengan Ancaman Yang Dahsyat Akan Dakwah Jama’ah Mereka.

    أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال :وأنا أّمُرُكْم بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِى بِهِنَّ : بِاْلجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ اْلجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ اْلجَمَاعَةِ قِيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَى اَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَى اْلجَاهِلِيَّةِ فَهُوَ مِنْ جُثَاءِ جَهَنَّمَ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ اِنْ صَامَ وَصَلَّى ، قَالَ وَاِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ فَادْعُوا اْلمُسْلِمِيْنَ بِمَا سَمَّاهُمُ اْلمُسْلِمِيْنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ * رواه أحمد والترمذي، وقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
    “Aku perintahkan kepada kamu sekalian (muslimin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fi sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasu lullah, jika ia shaum dan shalat?” Rasul bersabda: “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla.”
    (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa’a fi matsalis Shalati wa shiyami wa shodaqoti:V/148-149 No.2263. Lafadz Ahmad)

Leave a Reply

Theme by Anders Norén